jump to navigation

Apakah terpikirkan olehmu? Minggu, th 29, 2007

Posted by yoad in Nasehat.
1 comment so far

Sebelum engkau mendirikan sholat,

apakah terpikirkan olehmu,

di saat engkau mendengar azan,

bahwa penguasa langit dan bumi memanggilmu untuk menghadap-Nya di dalam sholatmu..

di saat engkau berwudhu,

bahwa engkau sedang bersiap-siap untuk menghadap raja diraja..

di saat engkau mengangkat tangan bertakbiratul ihrom,

bahwa engkau telah mulai bermunajat dengan Rabb-mu yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui..

di saat engkau membaca al Fatihah,

bahwa ada perbincangan khusus antara engkau dengan penciptamu yang Maha perkasa..

di saat engkau melakukan gerakan-gerakan sholat,

bahwa di sana para malaikat yang hanya Allah yang mengetahui jumlahnya, mereka ruku dan sujud selama ribuan-ribuan tahun lamanya..

di saat engkau sujud,

bahwa itulah seagung-agung dan seindah-indahnya waktu, di saat itulah manusia paling dekat dengan Rabb-nya yang Maha Esa.

di saat engkau salam,

bahwa kelak, engkau akan dikumpulkan di padang mahsyar..

Ashim bin Yusuf pernah bertanya kepada Haatim al Ashom tentang sholatnya, lalu haatim menjawab:

“Ketika telah dekat waktu sholat, maka aku perbagus wudhu’ku, lalu aku berdiri di tempat sholatku sehingga ragaku terasa tenang. Lalu aku membanyangkan ka’bah di depanku, dan aku bersaksi bahwa Allah mengetahui isi hatiku, seakan-akan kakiku di atas jembatan (shirot), surga di kananku, neraka di kiriku, dan malaikat maut di belakangku, aku menduga inilah sholat terakhirku.

Kemudian aku bertakbir dengan sebaik-sebaiknya takbir, aku membaca bacaan sholat dengan tadabbur, aku ruku’ dengan tawadhu’, aku sujud dengan kekhusyukan, duduk dengan sempurna, tasyahud dengan penuh harapan, dan aku iringi dengan keikhlasan, kemudian aku salam, dan aku tidak mengetahui apakah sholat ini diterima atau tidak?”

Ahsim bertanya, “ya Haatim! apakah begitu sholatmu?”

Haatim menjawab, “begitulah sholatku selama 30 tahun ini”.

Lalu menangislah Ashim dan berkata, “tidaklah sholatku menyerupainya sedikitpun”.

Keterangan:

Haatim Al Ashom adalah ulama khurasan yang pernah bertemu dan hidup di zaman Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Adz Dzahabi memujinya di dalam kitab syiar-nya, “beliau adalah orang yang zuhud dan teladan rabbani…”

Didiklah ِِAnak Anda! Rabu, th 29, 2007

Posted by yoad in Keluarga.
1 comment so far

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendidik bukanlah pekerjaan yang mudah, selain itu mendidik juga membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi mendidik anak merupakan amalan yang mulia, disebabkan amalan tersebut:

1. Mengikuti rasulullah saw dan para sahabat. Mereka mendidik generasi penerus mereka dan memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak.

2. Kebutuhan umat. Dengan mendidik generasi penerus, maka diharapkan kerusakan dan permusuhan yang terjadi pada umat Islam selama ini dapat teratasi, dan akan terbentuk generasi yang sholeh.

3. Sangat bermanfaat bagi anak kita kelak dalam membentengi diri mereka dari syubhat dan syahwat.

4. Membekali anak dalam menghadapi kerasnya kehidupan, pahitnya perjuangan, dan beratnya cobaan di masa depannya.

5. Melatih anak agar berperan di dalam kehidupan bermasyarakat.

6. Banyaknya musuh islam yang berusaha merusak islam dengan merusak anak-anak kaum muslimin dengan berbagai pemikiran yang rusak dan rayuan yang menggoda.

7. Pendidikan membuat sang anak berfikir lurus, tidak menyimpang dari pemahaman islam.

8. Penyakit dan kegelisahan yang dialami para orangtua umumnya disebabkan oleh kenakalan anak-anak mereka. Maka mendidik anak dan menumbuhkannya menjadi manusia yang sholeh akan menentramkan hati para orangtua.

9. Pendidikan yang dilakukan oleh orangtua akan menambah orangtua tersebut sifat-sifat yang mulia, seperti sabar, cinta terhadap kebaikan, lemah lembut, dll.

Pendidikan anak meliputi pendidikan iman, akhlak, akal, tubuh, jiwa, kepribadian, dan keorganisasian.

Pendidikan anak tidak hanya terbatas dilakukan oleh orangtua saja, tetapi juga pihak sekolah, masjid, tempat bermain anak, semuanya dapat menjadi perantara dalam mendidik anak.

Islam sangat menganjurkan pendidikan anak, dan memerintahkan kita agar melindungi mereka dari api neraka.

((ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً))

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At Taghobun :6)

((وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا))

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya “(QS Thoha : 132)

((يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُم))

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu” (QS An Nisaa: 11)

Adapun di dalam As Sunnah:

الرجل راعٍ في أهله ومسئولٌ عن رعيته، والمرأةُ راعيةً في بيتِ زوجها ومسئولةٌ عن رعيتها

Wanita adalah pembina di dalam rumah suaminya dan akan ditanya tentang pembinaannya, laki-laki adalah pembina di rumah istrinya dan akan ditanya tentang pembinaannya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Cara mendidik anak:

1.  Memilih istri yang sholehah dan suami yang sholeh.

Rasulullah memerintahkan agar kita memilih istri karena agamanya.

فاظفر بذات الدين تربت يداك

pilihlah karena agamanya, maka engkau akan beruntung” (HR. Bukhori)

2.  Berdoa agar diberikan keturunan yang sholeh.

((رَبِّي هَبْ لِيْ مِن الصَّالِحِيْنَ))

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh” (QS As Shoffat : 100)

3.  Mengucapkan doa ketika berhubungan intim

لو أن أحدكم إذا أراد أن يأتي أهله, قال : بسم الله, اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا,

فإنه إن قضى بينهما ولد لم يضره الشيطان أبدا

Seandainya salah seorang di antara kalian ingin mendatangi istrinya lalu berkata, “dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkannya setan dari apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami“, maka jika ditakdirkan keduanya memiliki anak, maka setan tidak akan mampu membahayakannya selamanya. (muttafaqun ‘alaihi)

Doa ini dibaca oleh suami kepada istrinya, namun istri juga boleh membacanya, karena pada asalnya tidak ada kekhususan bagi laki-laki (fatwa lajnah daimah, 19/356)

4.  Membacakan azan ke telingannya ketika lahirnya, mentahniknya, meng-aqiqahkannya, memberikan nama yang baik baginya, dan mengkhitannya.

5.  Mendoakannya. Para nabi sangat bersungguh-sungguh dalam mendoakan anak mereka.

Seperti doa nabi Ibrahim:

((وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ))

dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS Ibrahim :35)

((رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي))

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat” (QS Ibrahim : 40)

Begitu juga dengan doa nabi Zakaria:

((رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ))

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa“.(QS Ali Imron : 38)

6.  Sang ibu hendaknya tidak menyibukkan diri di luar rumah.

7.  Tidak menakut-nakuti anak dengan jin dan hantu, terutama saat mereka menangis.

8.  Mendorongnya untuk bergaul dengan orang lain jika orang lain tersebut tidak dikhawatirkan membahayakannya.

9.  Tidak merendahkan dan menyepelekannya, terutama di hadapan saudaranya dan kerabatnya.

10. Tidak memanggilnya dengan julukan yang jelek.

11. Memperingatkan mereka terhadap kesalahan mereka dengan lemah lembut, dan tidak menghukumi mereka jika kesalahan tersebut baru pertama kali dilakukannya.

12. Tidak berlebihan dalam mencintai mereka agar mereka tidak manja.

13. Berlaku adil kepada setiap anak jika anak kita lebih dari satu.

14. Memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan.

15. Mengajarkan anak agar minta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar orangtuanya.

16. Jika anak satu kamar dengan orangtua, maka jangan sekali-kali memperlihatkan hubungan intim, sekalipun anak tersebut masih kecil.

17. Mengajarkan anak laki-laki agar tidak melihat anak perempuan di dalam kamar mandi, demikian juga sebaliknya.

18. Mengajarkan kepada anak agar menjaga auratnya, tidak boleh oranglain melihatnya.

19. Menemani anak saat menonton TV dan ajarkan mereka agar tidak menonton film-film dewasa, serta ajarkan agar mereka tidak membaca majalah-majalah yang mengandung gambar yang tidak layak bagi mereka.

20. Mengajarkan mereka doa dan dzikir harian agar mereka menghafal dan mengamalkannya.

21. Mengajarkan mereka cara membaca Al Qur’an dan menghafalkannya sejak kecil.

22. Tumbuhkan kepada anak rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya.

23. Beri pemahaman tentang Allah, bahwa Allah itu adalah sesembahan kita, tidak ada sesembahan yang layak selain Dia, Dia Maha Melihat dan Mendengar apa yang kita kerjakan. Sehingga anak senantiasa merasakan bahwa dia selalu diawasi oleh Allah.

24. Ajarkan sholat dari kecil, perintahkan saat mereka berumur 7 tahun, dan jika tidak mau sholat pada umur 10 tahun, pukullah mereka.

25. Beri pemahaman tentang rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau diberi wahyu sebagai rahmat kepada seluruh alam semesta, dsb.

26. Para orangtua menjadi contoh teladan bagi anaknya. Anak lebih mudah memahami dari tindakan orangtua daripada perkataan.

Bagi yang ingin belajar kedokteran ke negeri kafir Rabu, th 29, 2007

Posted by yoad in Fatwa.
2 comments

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Sebagian pemuda ingin belajar kedokteran dan ilmu lainnya. Akan tetapi, ada masalah, seperti ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita), juga berpergian ke luar negeri. Apa nasehatmu untuk para pemuda ini?”

Jawab :
Nasehatku untuk para pemuda ini hendaknya mereka mempelajari ilmu kedokteran, karena di negeri kita (Arab Saudi) sangat membutuhkan dokter. Adapun masalah ikhtilat, Alhamdulillah di negeri kita (Arab Saudi) ini memungkinkan bagi seseorang untuk menjaga diri dari hal itu sesuai kemampuan.

Adapun berpergian ke negeri kafir, maka saya tidak menyarankannya kecuali jika terpenuhi 3 syarat:
1. Dia memiliki ilmu yang dapat menolak syubhat, karena ada orang-orang di negeri kafir yang memberikan syubhat-syubhat kepada para pemuda islam sampai mereka murtad dari agama mereka.
2. Dia memiliki agama yang dapat menolak syahwat. Jangan kamu pergi ke sana dalam keadaan agamamu lemah, sehingga syahwat lebih dominan dan terjerumus kepada kebinasaan.
3. Dia butuh berpergian ke sana disebabkan tidak adanya fasilitas yang dimaksudkan di negeri Islam.

Jika 3 syarat ini terpenuhi, maka pergilah. Tapi jika salah satunya tidak terpenuhi, maka jangan pergi. Sebab menjaga agama lebih utama dibandingkan menjaga yang lain.

Sumber : Kitabul Ilmi (pertanyaan ke-42)