Iman kepada Allah

28 12 2007

Sumber : Al Aqidatus Shohihah Karya Syaikh Bin Baaz rahimahullah


Diantara iman kepada Allah adalah mengimani bahwasanya Dia adalah sesembahan yang benar yang berhak diibadati sementara selain-Nya tidak berhak, sebab hanya Dia-lah pencipta seluruh hamba dan Dia telah berbuat baik kepada mereka, memberi rezeki, mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang kelihatan dari mereka, mampu memberi pahala atas kepatuhan mereka dan mampu memberi azab bagi mereka yang bermaksiat. Untuk ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manusia dan Dia memerintahkan mereka sebagaimana yang Allah firmankan, “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (saja), Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka (sedikitpun), dan tidak pula agar mereka memberi Aku makan; Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS Adz Dzaariyat : 58)

Hai manusia, sembahlah Robb-kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa; Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqoroh : 21-22)

Dan sungguh Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab untuk menjelaskan kebenaran ini dan berdakwah kepada-Nya serta memperingati apa-apa yang menyelisihinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Sesembahan (yang benar) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”” (QS Al Anbiya : 25).

(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu; agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya” (QS Huud : 1-2)

Dan hakekat ibadah ini adalah mengesakan Allah subhanah dalam seluruh ibadah seperti do’a, rasa takut, rasa harap, sholat, puasa, menyembelih, bernazar, dan jenis-jenis ibadah lain, beribadah dengan rasa rendah diri, berharap dan cemas, bersama kesempurnaan cinta dan ketundukan pada keagungan-Nya.

Kebanyakan Al Qur’an diturunkan tentang landasan yang agung ini, seperti firman Allah Ta’ala :

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS Az Zumar : 2-3)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (QS Al Isra’ : 23)

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, walau orang-orang kafir tidak menyukai (nya)” (QS Al Mukmin : 14)

Di dalam shohih Bukhori dan Shohih Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba-hambanya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun “.

Dan termasuk iman kepada Allah adalah mengimani seluruh apa yang diwajibkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan yang difardhukan kepada mereka berupa rukun Islam yang lima, yaitu bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, shaum romadhan, dan berhaji ke baitullah masjidil harom bagi siapa yang sanggup. Demikian juga berupa fardhu-fardhu lain yang didatangkan oleh syariat yang suci ini.

Rukun yang paling penting dan paling agung adalah bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Syahadat Laa ilaaha illallah berkonsekuensi memurnikan ibadah kepada Allah saja dan menafikan selain-Nya, inilah dia makna Laa ilaaha illallah, sesungguhnya maknanya adalah “Laa ma’buda bi haqqin illallahu” (tiada sesembahan yang benar selain Allah). Seluruh apa yang disembah selain Allah berupa manusia, malaikat, jin, dan selain itu, maka seluruhnya itu merupakan sesembahan yang batil, dan sesembahan yang benar hanyalah Allah saja, sebagaimana yang Allah firmankan :

yang demikian itu karena Allah-lah yang hak (benar) dan apa-apa yang mereka sembah selain-Nya adalah batil” (Al Hajj : 62)

Dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk maksud yang utama ini dan Dia memerintahkan mereka dengan maksud ini, dan Dia juga mengutus rasul dan menurunkan kitab dengan maksud ini, maka pahamilah hal ini dengan sebenar-benarnya dan tadabburilah agar jelas bagimu akan ketidaktahuan yang menimpa kebanyakan kaum muslimin terhadap maksud utama ini, sampai-sampai mereka menyembah Allah bersama selain Allah. Dan mereka memalingkan ikhlas yang merupakan hak Allah kepada selain Allah. Allahu musta’an.

Di antara iman kepada Allah subhanah adalah mengimani bahwa Dia pencipta alam semesta dan Dia-lah yang mengatur segala urusan, menguasai alam dengan ilmu dan kekuatan-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki dan Dia-lah yang menguasai dunia dan akhirat, Dialah Robb semesta alam, tidak ada pencipta selain Dia. Tidak ada Robb selain Dia. Dia-lah yang mengutus pada rasul dan menurunkan kitab untuk kemashlahatan hamba-hambanya dan untuk menyeru mereka kepada keselamatan dan kebaikan mereka dalam waktu dekat ataupun lambat. Tidak ada sekutu baginya di dalam perbuatan-perbuatan-Nya tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS Az Zumar 62)

Sesungguhnya Robb kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al A’rof : 54)

Diantara iman kepada Allah adalah mengimani nama-nama-Nya yang baik (asma’ul husna) dan sifat-sifat-Nya yang mulia, yang terdapat di dalam kitab-Nya yang agung dan yang telah tetap dari rasul-Nya yang terpercaya, tanpa tahrif (memalingkan makna), ta’thil (menolak), takyif (mem-bagaimana-kan), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk-Nya). Akan tetapi wajib diterima seperti yang tercantum (di dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya) tanpa menanyakan “bagaimana”, menerimanya dengan iman terhadap apa-apa yang ditunjukkan pada-Nya berupa makna-makna yang agung bahwa hal itu adalah sifat-sifat Allah ‘azza wa Jalla. Wajib mensifatinya dengan sifat yang tercantum di dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya yang pantas dan sesuai untuk-Nya tanpa menyerupakan makhluk-Nya dalam hal sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang Allah firmankan :

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS As Syuuro : 11)

Dan firman-Nya :

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS An Nahl : 74).

Inilah dia akidah ahlus sunnah wal jama’ah, kalangan shahabat rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan inilah yang dinukil oleh Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari rahimahullah di dalam kitabnya Al Maqolaat ‘an Ashaabil Hadits wa Ahlis Sunnah, dan juga dinukil oleh para ulama yang lainnya.

Berkata Al Auza’i rahimahullah : Az Zuhri dan Makhul ditanya tentang ayat-ayat sifat (Allah), maka keduanya berkata : “terimalah sebagaimana datangnya”.

Dan berkata Al Walid bin Muslim rahimahullah, Imam Malik, Al Auza’i, Laits bin Sa’ad, Sufyan Ats Tsauri ditanya tentang sifat Allah yang terdapat (di dalam Al Qur’an dan As Sunnah), semua mereka berkata terimalah ia sebagaimana datangnya tanpa mem-bagaimana-kan (men-takyif).

Berkata Al Auza’i rahimahullah : Sesungguhnya Allah subhanah berada di atas ‘Arsy dan kami mengimani dengan apa yang terdapat di dalam As Sunnah tentang sifat Allah.

Ketika Rabi’ah bin Abi ‘Abdirrahman gurunya Imam Malik ditanya tentang istiwa’, beliau berkata : Istiwa’ itu tidak rancu (tidak majhul), tapi bagaimana caranya tidak dapat dipikirkan, dan dari Allah risalah dan bagi Rasulullah menyampaikan hal yang nyata, dan hendaknya kita membenarkannya”

Ketika Imam Malik ditanya tentang itu, beliau berkata : “Istiwa’ itu diketahui (ma’lum), akan tetapi caranya tidak diketahui (majhul), mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah” Kemudian beliau berkata kepada sang penanya, “tidaklah aku lihat kamu melainkan seorang yang buruk!” Lalu beliau memerintahkan agar penanya tersebut keluar (dari majelisnya).

Dan diriwayatkan juga makna seperti ini dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.

Perkataan para imam tentang hal ini sangatlah banyak, tidak mungkin untuk dinukil di dalam tulisan ringkas ini, bagi siapa yang ingin membacanya lebih banyak lagi dapat dilihat di dalam kitab-kitab ulama sunnah seperti di dalam kitab As Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad; kitab At Tauhid karya Imam Muhammad bin Khuzaimah, kitab As Sunnah karya Abul Qosim Al Laalikai Ath Thobari, kitab As Sunnah karya Abu Bakar Abi ‘Ashim, dan Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada Ahli Humah yang berupa jawaban agung serta banyak faidahnya, sungguh beliau menjelaskan di dalamnya tentang akidah ahlus sunnah, dan dinukilkan di dalamnya banyak perkataan ahlus sunnah dan dalil-dalil syar’i dan ‘aqli tentang benarnya apa yang dikatakakn oleh ahlus sunnah, dan salahnya orang-orang yang menyelisihi mereka.

Dan ada tulisan yang bagus “at tadmiriyyah” sungguh di dalamnya diperluas penjelasan akidah ahlus sunnah dengan dalil-dalil naqli dan ‘aqli serta bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihi, dengan kebenaran yang tampak dan kebatilan yang terungkap bagi setiap orang yang memperhatikannya dari kalangan ahlu ilmu yang bermaksud baik dan mencari kebenaran.

Setiap orang yang menyelisihi ahlus sunnah di dalam akidah tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka sesungguhnya mereka itu telah menyelisihi dalil-dalil naqli dan ‘aqli dengan pertentangan yang jelas di setiap apa yang ditetapkan dan dinafikan olehnya.

Adapun ahlus sunnah wal jama’ah, mereka menetapkan untuk Allah Ta’ala apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya yang mulia dan menetapkan apa yang ditetapkan oleh rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sunnahnya yang shohihah tanpa memisalkan dengan makhluknya. Mereka (ahlus sunnah) menghindari penyerupaan Allah terhadap makhluk-Nya, menghindari ta’thil (penolakan), mereka menang dengan selamat dari pertentangan dan mereka mengamalkan seluruhnya, dan ini merupakan sunnatullah bagi orang yang berpegang tegung pada kebenaran yang dengannya Allah mengutus rasul dan dia bersemangat pada kebenaran tersebut dan mengikhlaskan diri untuk Allah bahwa orang seperti ini akan bertindak sesuai dengan kebenaran dan argumen (hujjah)nya jelas, sebagaimana yang Allah firmankan :

Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (QS Al Anbiyaa’ : 18)

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” (QS Al Furqon : 33).

Al Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya yang terkenal ucapannya terhadap firman Allah :

Sesungguhnya Robb kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy” (QS Al A’rof : 54), ucapan beliau tersebut sangat baik pada fasal ini, yang selayaknya dinukil di sini karena faedahnya yang agung.

Beliau (Ibnu Katsir) mengatakan, “Banyak sekali perkataan orang-orang tentang makna ayat ini, akan tetapi bukanlah di sini tempat untuk memperluasnya, kami hanya menempuh madzhab salafus sholih tentang makna ini, yaitu Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Laits bin Sa’ad, As Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan selain mereka dari imam-imam-nya kaum muslimin, yaitu menerima (sifat istiwa’ bagi Allah-pent) sebagaimana datangnya tanpa ditakyif (di-bagaimana-kan),di tasybih (diserupakan), dan tanpa dita’thil (ditolak), yang jelas bahwa orang-orang musyabbih (yang merupakan Allah dengan makhluk) telah dinafikan oleh Allah, sesungguhnya Allah tidak ada yang menyerupainya sesuatu apapun, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat“, berkata imam Nu’aim bin Himad Al Khoza’i gurunya Imam Bukhori : barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia kafir, dan barang siapa yang mengingkari apa-apa yang Allah sifatkan untuk dirinya maka dia (pun) kafir. Bukanlah apa-apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya itu berupa penyerupaan terhadap makhluk-Nya. Bagi siapa yang menetapkan bagi Allah apa yang terdapat pada ayat-ayat yang jelas dan khabar-khabar yang shohih dengan penetapan yang pantas dan sesuai untuk kemulian Allah serta menafikan kekurangan bagi Allah, maka sungguh dia telah menempuh jalan hidayah.”


Diterjemahkan oleh Yoad Abu Dawud al Fakanbary


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: