Tauhid Rububiyyah, semua makhluk juga mengakuinya

19 02 2009

Tauhid secara bahasa adalah mashdar dari وحّد – يوحّد-تَوْحيدا  artinya “menjadikan satu atau mengeesakan”.
Dalam istilah syar’i, tauhid adalah mengesakan Allah -ta’ala- terhadap perkara-perkara yang khusus bagi-Nya, yaitu rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, serta nama dan sifat-Nya.
Oleh karena itu, para ulama membagi tauhid menjadi 3 jenis, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid nama dan sifat.

Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan, berkuasa, dan mengatur alam semesta.

a. menyakini bahwa tidak ada yang menciptakan apapun juga selain Allah.
Allah -ta’ala- berfirman, ألا له الخلق والأمر “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” (QS Al A’rof : 54). Kalimat pada ayat tersebut secara kaidah memberikan makna pembatasan, makanya diterjemahkan “hanyalah”.
Akan tetapi, ada sedikit musykilah, pada ayat فتبارك الله أحسن الخالقين “Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mukminun : 14)
Seolah-oleh ada pencipta lain selain Allah, sebab Allah “Pencipta yang Paling Baik”.
Maka jawabnya, penciptaan yang dimaksud adalah bukan penciptaan yang hakiki, dan bukan membuat sesuatu menjadi ada setelah tiada, akan tetapi hakikatnya adalah mengubah sesuatu dari suatu keadaan ke keadaan lain, itupun tidak sempurna, tetapi sebatas kemampuan manusia. Maka ini sama sekali tidak menyangkal perkataan sebelumnya, yaitu “tidak ada yang menciptakan selain Allah”.

b. Meyakini tidak ada yang berkuasa terhadap makhluk atau yang merajai mereka kecuali Yang menciptakan mereka, yaitu Allah.
Allah -ta’ala- berfirman, ولله ملك السماوات والأرض “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Ali Imron : 189).
Akan tetapi, ada di dalam nash bahwa penguasaan juga milik selain-Nya, seperti firman Allah, إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم “kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka kuasai” (QS Al Mukminun : 6).
Penguasaan ini terbatas dan tidak sempurna. Manusia menguasai atas dirinya, tetapi tidak bisa menguasai orang lain, lagi pula ,manusia tidak menguasai atas dirinya secara sempurna, dan hanya sebatas perkara yang dibolehkan oleh syari’at. Misalnya, seseorang ingin mengazab hewan, maka kita katakan, “tidak boleh”. Adapun Allah, maka dia menguasai semuanya secara sempurna.

c. Menyakini bahwa tidak ada yang mengatur alam semesta melainkan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yunus ayat 31-32.

Tauhid rububiyyah ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik di zaman nabi. Bahkan mereka menyatakan dan mengakuinya, sebagaimana firman Allah, “sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui“” (QS Az Zukhruf : 9)
Mereka mengakui bahwa Allah yang mengatur segala perkara, dan semua kerajaan langit dan bumi ada di tangan-Nya.

Tidak ada seorangpun dari keturunan adam yang mengingkari hal ini. Tidak ada seorangpun yang menyakini bahwa di alam ini ada dua pencipta yang setara.
Tidak ada yang mengingarinya kecuali Fir’aun, “dia (Fir’aun) berkata, Sayalah Tuhanmu yang paling tinggi” (QS An Naazi’aat : 24). Hal itu disebabkan oleh kesombongannya, karena sebenarnya dia mengetahui bahwa adanya Rabb selainnya, yaitu Allah, sebagaimana firman Allah, “Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (QS Al isro’ : 102) .
Itulah Fir’aun, mengingkari adanya Tuhan dengan kesombongannya.
Ada juga yang mengingkari Tuhan dengan menjadikan Tuhan lebih dari satu. Seperti orang-orang Majusi. Mereka mengatakan, bahwa alam semesta ini ada dua pencipta, yaitu cahaya dan kegelapan. Akan tetapi, sebenarnya mereka juga mengingkari bahwa tidak ada dua Tuhan yang setara. Mereka mengatakan bahwa cahaya menciptakan hal yang baik, dan kegelapan menciptakan hal yang buruk. Yang menciptakan kebaikan tentu lebih baik daripada yang menciptakan keburukan. Selain itu, cahaya itu bersinar, sementara kegelapan tidak. Sehingga cahaya lebih baik. Dengan demikian, pada hakikatnya mereka juga mengingkari bahwa tiada Tuhan yang setara.

Allah -ta’ala- memberikan keterangan yang logis secara akal bahwa Tuhan atau Pencipta alam semesta ini hanya satu,
Allah berfirman, “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain” (QS Al Mukminuun : 91).

Seandainya kita tetapkan ada dua pencipta, maka masing-masing pencipta tersebut ingin memisahkan diri dan menyendiri dalam kekuasaannya seperti halnya kebiasaan para raja. karena masing-masing tidak akan ridho bersatu. Setelah berpisah, maka masing-masing punya keinginan, yaitu saling mengalahkan dan salah satunya ingin berkuasa atas yang lainnya.
Jika salah satunya menang, maka sifat rububiyyah dipegangnya, tetapi bila keduanya kalah, maka hilang sifat rububiyyah dari keduanya. Karena Rabb atau Tuhan tidak mungkin kalah.

Kalau semua makhluk mengakui tauhid rububiyyah, maka tauhid apa yang diperjuangkan habis-habisan oleh para rasul ??
Nantikan edisi selanjutnya..


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: