Muqoddimah Sifat Sholat Nabi

20 02 2009

Sifat sholat maknanya adalah tata cara mendirikannya.
Para ulama –ahli fiqh– berbicara tentang sifat sholat karena syarat ibadah itu ada 2, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti contoh dari rasul sholallahu ‘alaihi wa sallam).
Materi tentang ikhlas, dibicarakan oleh ahli tauhid dan aqidah. Adapun mutaba’ah, dibicarakan oleh para ahli fiqh.
Siapa yang mengikuti rasul sholallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ikhlas, maka ibadahnya tidak sah, sebab firman Allah di dalam hadist qudsi,
أنا أغني الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
Saya tidak butuh serikat-serikat dari kesyirikan, siapa yang mengamalkan suatu amalan yang dia menserikatkan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan kesyirikannya”, (H.R Muslim 2985)
Siapa yang ikhlas kepada Allah, tetapi dia tidak mengikuti contoh dari rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, maka ibadahnya tertolak, sebab sabda nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
siapa yang melakukan amalan yang bukan dari ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhori 4/355).
Oleh karena itulah, para ulama bersungguh-sungguh menjelaskan sifat sholat. Demikian juga sifat haji, sifat puasa, dan sifat zakat.
Sholat merupakan rukun islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berpendapat bahwa meninggalkan sholat karena malas, menyebabkan seseorang kafir sekalipun dia berkeyakinan terhadap wajibnya sholat. Adapun jika tidak berkeyakinan terhadap wajibnya sholat, maka dia kafir walaupun dia melakukannya. Jika seseorang berkata, “saya sholat lima waktu dengan berkeyakinan hukumnya sunnah (tidak wajib)”, maka dia kafir walaupun dia melakukan sholat-sholat tersebut.
Sholat yang dilakukan secara berjama’ah, keadaan yang paling baik bagi seseorang adalah dia berwudhu’ terlebih dahulu di rumahnya dan memperbagus wudhu’nya tersebut, kemudian dia keluar dari rumah (menuju mesjid) dengan niat sholat secara berjama’ah. Jika dia berniat demikian, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan menghapus dosa-dosanya.
Jadi kalau rumah seseorang jauh dari mesjid, maka janganlah dia berkeluh dan mengatakan “jalan ke mesjid membuatku letih”. Karena hal ini justru setiap langkah yang kita jalankan dalam keadaan wudhu’ yang bagus dan berniat ke mesjid, Allah akan mengangkat derajat kita dan menghapus dosa-dosa kita.
Hendaklah mendatangi mesjid dengan tenang, tenang dalam perkataan atau dalam perbuatan. Janganlah dia datang dalam keadaan gelisah dan terburu-buru, karena dia menemui tempat dimana dia berdiri di hadapan Allah. Kita semua mengetahui seandainya kita ingin menghadap raja di istananya, maka kita akan bersiap-siap, pakaian apa yang pantas digunakan? Apa saja yang mesti dilakukan? Kemudian kita datang kepada raja tersebut dalam keadaan tenang dan tidak gelisah. Maka bagaimana kalau yang kita hadap adalah rumah Allah untuk berdiri di hadapan-Nya.
Janganlah dia terburu-buru disebabkan khawatir ketinggalan sholat dan terlewat beberapa raka’at, karena nabi -sholallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة وعليكم السكينة و الوقار ولا تسرعوا
jika kalian mendengar iqomat, maka jalanlah ke mesjid dengan tenang, wibawa, dan tidak terburu-buru” (HR. Bukhori 908, HR. Musllim 602).
Jadi jangan terburu-buru. Jika terlewat rakaat sholat, maka sempurnakan sebagai masbuq. Begitulah adab kepada Allah yang sebenarnya.
Kemudian, setelah kamu sampai di masjid, maka sholatlah tahiyatul mesjid. Jika sudah azan, maka kamu bisa sholat sunnah rawatib jika sholat tersebut mengandung sholat sunnah rawatib sebelumnya, jika tidak maka sholat sunnah antara azan dan iqomat, karena antara azan dan iqomat ada sholat sunnah. Sholat sunnah antara azan dan iqomat dan sholat rawatib ini mencukupi sholat tahiyatul mesjid. Sebab rasul sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلى ركعتين
Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia sholat dua raka’at” (HR. Bukhori 444).
Sholat dua rakaat ini juga termasuk sholat rawatib atau sunnah antara azan dan iqomat.
Setelah sholat sunnah, maka duduklah dengan niat menunggu sholat. Ketahuilah, bahwa kamu dicatat sebagai orang yang sholat selama kamu menunggu sholat sekalipun imam terlambat 5 atau 10 menit, maka kamu senantiasa dalam kebaikan karena kamu dicatat sebagai orang yang sholat selama kamu menunggu sholat, selain itu Malaikat akan memohon ampun untukmu selama kamu berada di tempat sholat.

Sumber: Shifatusshotah (Syarh Bab Shifatussholah min Kitab Zaadul Mustaqni’ fikhTishori Al Muqni’) oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-, Penerbit Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah

-Yoad Nazriga S-


Aksi

Information

One response

21 02 2009
mamas86

Jadi tambah ilmu agamanya… Thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: