Anjuran lemah lembut dan bermusyawarah

21 02 2009

رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين

maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekat, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal” (QS Ali Imran : 159)

Allah Ta’ala berkata kepada Rasul-Nya mengingatkan akan nikmat-Nya kepada Beliau dan orang-orang mukmin yang lembut hatinya dan baik ucapannya kepada umat yang mengerjakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

{فبما رحمة من اللّه لنت لهم} (maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu dengan sesuatu yang Allah jadikan hatimu lembut kepada mereka, jika bukan berkat rahmat Allah maka kamu tidak akan berbuat demikian.

Qatadah berkata tentang ayat {فبما رحمة من اللّه لنت لهم} bahwa (ما) pada ayat ini adalah (ما) shilah (penghubung). Dalam bahasa arab, terkadang disandingkan dengan isim ma’rifah seperti firman-Nya {فبما نقضهم ميثاقهم} (maka -kami hukum mereka- karena mereka melanggar perjanjian itu), dan terkadang dengan isim nakirah seperti difirman-Nya {عما قليل} (tidak lama lagi), dan demikian juga pada ayat (yang sedang dibahas ini) yaitu firman-Nya {فبما رحمة من اللّه لنت لهم} maksudnya berkat rahmat dari Allah.

Al Hasan Al Bashri berkata mengenai ayat ini: Inilah akhlak Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam utusan Allah.

Ayat yang mulia ini serupa dengan firman-Nya : لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم} (sungguh, telah datang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyanyang terhadap orang-orang yang beriman), kemudian Allah Ta’ala berkata {ولو كنت فظاً غليظ القلب لانفضوا من حولك} (Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu). Maksud lafadz الفظ dan الغليظ pada ayat tersebut adalah keras dalam perkataan.

Oleh sebab itu Allah berfirman {غليظ القلب} (berhati kasar), yaitu seandainya kamu berkata kasar kepada mereka, maka mereka akan menjauhi dan meninggalkanmu. Pada kenyataannya, Allah mempersatukan kamu dengan mereka, dengan sebab adanya sifat kelembutan pada dirimu yang menjadikan mereka tertarik padamu.

Sebagaimana yang dikatakan ‘Abdullah bin ‘Umar, “sungguh saya melihat sifat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam pada kitab-kitab terdahulu,bahwasanya beliau tidak keras, tidak juga kasar, tidak berteriak di tempat umum, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan beliau memaafkan.

Demikianlah perkataan Allah {فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر} (Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu). Karena itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan Shahabat-Shahabatnya dalam suatu urusan jika beliau berbicara agar mereka menerima dengan baik, sehingga pekerjaan mereka akan menjadi lebih giat.

Hal ini sebagaimana Beliau bermusyawarah kepada mereka pada hari Badar tentang kepergian mereka menuju kafilah musuh. Mereka berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya Engkau menyeberangi lautan, maka kami akan ikut bersamamu, dan seandainya Engkau menelusuti daratan Barkhil Ghimad, maka kami juga pasti akan bersamamu. Tidak lah kami mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa (“pergilah Engkau berperang (wahai musa) bersama Rabb-mu, dan kami tetap tinggal di sini”). Akan tetapi kami akan mengatakan, “pergilah (wahai Rasulullah), dan kami akan berada di kanan dan di kiri mu untuk ikut berperang bersamamu”.

Beliau juga pernah bermusyawarah dengan mereka mengenai di mana semestinya berkemah (untuk istirahat), hingga akhirnya Mundzir bin ‘Amr mengusulkan untuk pergi saja menyerang musuh.

Beliaupun bermusyawarah ketika Hari Uhud, apakah Beliau tetap tinggal di Madinah, atau pergi menyerang musuh. Pada saat itu kebanyakan mereka mengusulkan untuk berkemah di dekat kaum (musuh).

Dan juga ketika Hari Khandaq tentang masalah Ahzab mengenai penyerahan sepertiga dari harta Madinah, tetapi tidak disetujui oleh dua orang Sa’ad, yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah, sehingga Beliau Sholallahu ‘alaihi wasallam meniggalkan hal tersebut.

Ketika hari Hudaibiyah, Rasulullah bermusyawarah tentang usulan untuk menyerang orang-orang Musyrik, maka berkatalah Abu Bakr AsSiddiq radiyallahu ‘anhu, “kita tidak datang untuk berperang, melainkan kita datang untuk melakukan umrah.” Maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menerima pendapat Abu Bakr tersebut.

Begitulah Rasulullah bermusyawarah meminta pendapat kepada para sahabat beliau tentang perperangan dan selainnya.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah {وشاورهم في الأمر} (dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu), ia berkata, “Ayat ini diturunkan tentang Abu Bakr dan ‘Umar, mereka berdua adalah shahabat karib Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam yang membantu perjuangan Beliau, dan bapaknya kaum Muslimin.”

Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanam bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakr dan ‘Umar, “Seandainya kalian berdua berkumpul untuk bermusyawarah tentang apa yang kalian perselisihkan”.

Ibnu Mardawiyah meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang Al ‘Azm, maka beliau bersabda, “Bermusyawarah kamu dengan orang yang paham, kemudian ikutilah mereka”.

Dan riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairoh bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Musyawarah itu dapat dipercaya“.

Firman Allah Ta’ala {فإذا عزمت فتوكل على اللّه} (kemudian jika kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakkallah kepada Allah), maksudnya jika kamu telah bermusyawarah kepada mereka tentang urusan itu dan membulatkan tekat (terhadap keputusannya), maka bertawakkallah kepada Allah, {إن اللّه يحب المتوكلين} (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal)

Diterjemahkan dari : Tafsir Ibnu Katsir


Aksi

Information

One response

15 09 2009
ali zuhdi

Memang benar bahwa segala sesuatu perkara sekecil apapun hendaklah dimusyawarahkan , baik itu urusan rumah-tangga , pekerjaan , maupun sosial masyarakat . Karena yang demikian itu akan menjadi jalan keluar yang terbaik.
http://www.rahasiawebsitepemula.com/?id=zuhdiali
zuhdi_banat@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: