Tips Menundukkan Pandangan

9 10 2009

Ada beberapa tips yang membantumu dalam menundukkan pandangan:

1. Merasakan bahwa Allah memperhatikanmu, dekat denganmu. Sesungguhnya Dia melihatmu dan Dia mengetahuimu dari segala sisi. Terkadang pandangan yang khianat tidak diketahui oleh temanmu, tetapi Allah mengetahuinya. Allah ta’ala berfirman, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada” (QS Ghofir : 19)

2. Meminta pertolongan dan berdo’a kepada-Nya. “Dan Rabb-mu berfirman, “berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan untukmu” (QS Ghofir : 60)

3. Mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu semuanya berasal dari Allah -ta’ala-, nikmat-nikmat itu perlu engkau syukuri. Diantara cara mensyukuri nikmat pandangan adalah dengan menjaganya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Bukankan kebaikan itu tidak dibalas kecuali dengan kebaikan? “Apa-apa saja yang ada padamu berupa nikmat, maka itu dari Allah” (QS An Nahl : 53)

4. Bersungguh-sungguh dan membiasakan diri menjaga pandangan dan bersabar atasnya, serta tidak berputus asa. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, akan Kami tunjukkan mereka jalan-jalan Kami” (QS Al Ankabut : 69)

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “siapa yang berusaha menjaga kesuciannya, Allah akan menjaga kesuciannya, siapa yang meminta kecukupan Allah akan mencukupinya, siapa yang berusaha sabar Allah akan memberikan kesabaran kepadanya” (HR Bukhori 1400)

5. Menjauhi tempat-tempat yang dikhawatirkan terjadinya fitnah pandangan jika terdapat pilihan tempat lain. Di antara yang dikhawatirkan adalah pergi ke pasar dan duduk-duduk di jalan. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “hindarilah duduk-duduk di jalan”, mereka (para sahabat) berkata, “tidak mungkin kami menghindarinya”, jalan-jalan ini hanyalah tempat duduk kami untuk berbincang-bincang”, Beliau bersabda, “jika tidak ada tempat selain tempat ini, maka berikanlah jalan itu haknya, mereka bertanya, “apa hak jalan itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “menjaga pandangan, menahan gangguan, dan membalas salam, serta beramar ma’ruf nahi munkar” (HR Bukhori 2333, Muslim 2121)

6. Mengetahui bahwa tidak ada pilihan lagi bagimu terhadap perkara ini dalam situasi dan kondisi apapun. Baik ketika ada orang yang menyerumu, atau ketika godaan dan perasaan bergejolak di dalam hatimu, pandangan tetap wajib dijaga dari perkara yang diharamkan kapan saja dan dimana saja. Engkau tidak boleh berhujjah -misalnya- dengan rusaknya kenyataan dan tidak boleh juga membenarkan kesalahanmu dengan adanya perkara yang mendorongmu untuk terjerumus kepada fitnah tersebut. Allah ta’ala berfirman, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin, tidak juga perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS Al Ahzab : 36)

7. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, sesungguhnya memperbanyak ibadah sunnah -dengan tetap menjaga ibadah fardu- dapat menjadi sebab terjaganya perbuatan zhohir seorang hamba, Allah ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi, “senantiasa hambaku mendekatkan diri kepada ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya.” (HR Bukhori 6137)

8. Mengingat kesaksian bumi sebagai tempat yang engkau gunakan untuk bermaksiat. “pada hari itu bumi menyampaikan kabarnya” (Al Zalzalah : 4)

9. Mengingat malaikat yang mencatat amal-amalmu, “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Infithar : 10-12)

10. Menghadirkan sebagian nash yang melarang dari mengumbarkan pandangan, seperti firman Allah ta’aa “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaknya mereka menjaga pandangan-pandangan mereka” (QS An Nuur : 30).

11. Menjauhi dari pandangan yang sia-sia, janganlah engkau memandang sesuatu yang tidak penting, dan jangan engkau mengumbarkan pandanganmu ke kanan atau ke kiri yang nantinya akan mengakibatkan engkau terjerumus ke dalam perkara yang engkau tidak mampu mengatasinya dalam waktu singkat berupa pengaruh pandangan sampai pada perkara-perkara yang mengandung fitnah.

12. Menikah, dan ini adalah obat yang paling mujarab. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “barangsiapa yang telah memiliki kemampuan (al-ba’ah) maka menikahlah, karena itu akan lebih menjaga pandangan dan lebih menjaga kemaluan, barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah iya berpuasa, karena puasa menjadi tameng baginya” (HR Bukhori 1806, Muslim 1400)

13. Berpuasa, sebagaimana hadits di atas.

14. Melaksanakan perintah-perintah sebagaimana yang Allah perintahkan, di antaranya sholat, “sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (QS Al Ankabut : 45).

15. Mengingat bidadari, agar engkau berlomba-lomba di atas kesabaran dari perkara-perkara yang Allah haramkan dalam rangka mendapatkannya, Allah ta’ala berfirman, “dan gadis-gadis montok yang sebaya” (QS An Naba’ : 33).

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “seandainya wanita dari ahli surga ditampakkan kepada orang-orang bumi, maka akan bercahayalah antara keduanya, dan akan dipenuhi oleh aroma wangi, sungguh selendang di kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR. Bukhori 2643).

16. Menghadirkan kekurangan dari perkara yang kita lihat dan penyakit serta kerusakan yang diakibatkannya.

17. Meninggikan cita-cita kepada perkara-perkara yang mulia.

18. Menghisab diri antara masa kini dan hari akhir, dan mengusahakan diri dengan sungguh-sungguh untuk menjaga pandangan.

19. Mengingat penyakit dan kerugian yang ditimbulkan dari pandangan ini.

20. Mengenal faedah-faedah dari menjaga pandangan.

21. Memberikan materi ini di majelis-majelis dan forum-forum serta menjelaskan bahaya-bahaya mengumbarkan pandangan.

22. Memperbaiki karib kerabat, menasehati mereka agar tidak memakai pakaian yang dapat memberi dampak pada pandangan dan yang menampakkan kecantikan.

23. Mencegah bahaya-bahaya dan was-was sebelum ada keinginan yang mengakibatkan engkau melakukannya. Barangsiapa yang menjaga pandangannya ketika pandangan pertama maka selamatlah ia, jika ia mengulangi pandangan tersebut maka dia tidak akan aman dari tertanamnya pandangan tersebut di dalam hatinya yang sulit ia lepaskan.

25. Takut mati dalam keadaaan su’ul khotimah, dan penyesalan di saat kematian.

26. Memilih teman, karena tabiat itu dapat tercemar oleh kebiasaan teman, seseorang itu akan mengikuti temannya. Shohib (teman) itu Sahib (penarik).

27. Mengilmui bahwa zinanya mata adalah memandang, cukuplah ini sebagai kekejian.

Diambil dari http://www.islamqa.com/ar/ref/20229


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: