Ushul Fiqh 2 (الأحكام)

10 10 2009

Telah kita pelajari mengenai definisi ushul fiqh dan faedahnya pada pembahasan sebelumnya (ushul fiqh 1).

Sekarang kita masuki pelajaran baru, yaitu tentang الأحكام (hukum). Berikut cuplikannya::)

Definisi:

Ahkam merupakan jama’ dari hukmu (حكم) secara bahasa artinya ketetapan (hukum).
Secara istilah adalah perkara-perkara yang ditetapkan oleh penetap syariat yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf (orang-orang yang dibebani) berupa tuntutan, pilihan, atau wadh’i (tanda-tanda)

Maksud perkataan kami “penetap syariat” adalah Al Qur’an dan As Sunnah.

Maksud berkataan kami “yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf” adalah yang berkaitan dengan perkara-perkara yang mencakup amalan-amalan mereka, baik perkataan ataupun perbuatan, yang sifatya melaksanakan ataupun meninggalkan. Maka hukum tidak mencakup perkara-perkara yang berkaitan dengan keyakinan, dan keyakinan tersebut tidak dinamakan hukum secara istilah ini.

Maksud perkataan kami “mukallaf” adalah orang-orang yang dibebani (syariat), tidak termasuk anak kecil dan orang gila.

Maksud kami “tuntutan” adalah yang bersifat perintah dan larangan, baik berupa keharusan ataupun keutamaan.

Maksud kami “pilihan” adalah yang sifatnya mubah (boleh).

Maksud kami “wadh’i (tanda-tanda) adalah yang menunjukkan kepada shahih (benar) atau fasid (rusak) nya suatu amalan, atau yang lainnya yang ditetapkan oleh syariat berupa tanda-tanda dan sifat-sifat yang menunjukkan pada terlaksana atau batalnya (suatu amalan).

Pembagian Hukum Syar’i:

Hukum syar’i terdiri menjadi 2 jenis, yaitu hukum taklifiyyah (pembebanan) dan wadh’iyah (tanda-tanda).

Hukum taklifiyyah ada 5:

1. Wajib
Secara bahasa artinya jatuh. Secara istilah, wajib adalah perkara-perkara yang diperintahkan oleh syariat yang harus dilaksanakan, contohnya sholat lima waktu.
Perkataan kami “perkara-perkara yang diperintahkan” tidak memasukkan haram, makruh, dan mubah.
Perkataan kami “yang harus dilaksanakan” tidak memasukkan mandub (sunnah).
Wajib adalah yang diberi pahala orang yang melakukannya dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan berhak mendapat azab bagi yang meninggalkannya.
Wajib juga dinamakan fardhu, faridhoh, atau lazim.

2. Mandub (Sunnah)
Secara bahasa artinya yang diseru. Secara istilah adalah perkara-perkara yang diperintahkan oleh syariat yang tidak mesti dilaksanakan, contohnya sholat sunnah rawatib.
Perkataan kami “perkara-perkara yang diperintahkan” tidak memasukkan haram, makruh, dan mubah.
Perkataan kami “yang tidak mesti dilaksanakan” tidak memasukkan wajib.
Mandub (sunnah) adalah yang di beri pahala orang yang melakukannya dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan tidak diazab bagi yang meninggalkannya.

3. Haram
Secara bahasa artinya yang dilarang. Secara istilah adalah perkara-perkara yang dilarang oleh syariat yang harus ditinggalkan, contohnya durhaka kepada orangtua.
Perkataan kami “perkara-perkara yang dilarang” tidak memasukkan wajib, mandub, dan mubah.
Perkataan kami “yang harus ditinggalkan” tidak memasukkan makruh.
Haram adalah yang diberi pahala orang yang meningggalkannya dalam rangka melaksanakan perintah Allah, dan berhak mendapat azab bagi yang melakukannya.

4. Makruh
Secara bahasa artinya yang dibenci. Secara istilah adalah perkara-perkara yang dilarang oleh syariat yang tidak mesti ditinggalkan, contohnya mengambil dan memberi sesuatu dengan tangan kiri.
Perkataan kami “perkara-perkara yang dilarang” tidak memasukkan wajib, mandub, dan mubah.
Perkataan kami “yang tidak mesti ditinggalkan” tidak memasukkan haram.
Makruh adalah yang diberi pahala orang yang meninggalkannya dalam rangka melaksanakan perintah Allah, dan tidak mendapat azab bagi yang melakukannya.

5. Mubah (boleh)
Secara bahasa artinya yang diizinkan. Secara istilah adalah perkara-perkara yang tidak ada kaitannya dengan perintah dan larangan secara zatnya, contohnya makan di malam Bulan Ramadhan.
Perkataan kami “yang tidak ada kaitannya dengan perintah” tidak memasukkan wajib dan mandub.
Perkataan kami “dan larangan” tidak memasukkan haram dan makruh.
Perkataan kami “secara zatnya” yaitu jika seandainya hal tersebut menjadi wasilah (perantara) bagi perkara wajib atau menjadi wasilah (perantara) bagi perkara haram, maka hal tersebut mempunyai hukum sesuai dengan perkara yang diwasilahkannya. Akan tetapi, tidak mengeluarkannya dari hukum mubah secara asal.
Perkara mubah tersebut selama sifat masih mubah, maka tidak berkonsekuensi mendapat pahala atau azab.
Mubah juga dinamakan halal atau boleh.

InsyaAllah bersambung ke part 3 : hukum-hukum wadh’iyah (الأحكام الوضعية).

Pertanyaan untuk dijawab sendiri:
1. Mengapa ahkam (hukum) dibahas di dalam ushul fiqh?
2. Apa definisi hukum secara bahasa dan istilah? jelaskan!
3. Sebutkan dua jenis hukum syar’i!
4. Apa definisi hukum taklifiyyah? dan jelaskan perinciannya!

Nantikan pembahasan tentang hukum wadh’iyah dan bedanya dengan hukum taklifiyyah.

Diterjemahkan oleh Yoad Nazriga S,
dari kitab Ushul min Ilmi Ushul karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin -rahimahullah-

Bisa dilihat juga di Facebook l Belajar Ushul Fiqh


Aksi

Information

2 responses

10 10 2009
Ushul Fiqh 3 (الأحكام الوضعية) « Bismillah

[…] Telah dibahas pada ushul fiqh 2 […]

10 10 2009
Ushul Fiqh 4 (العلم و الكلام) « Bismillah

[…] Ushul Fiqh 1 (Definisi dan Faedah Ushul Fiqh) * Ushul Fiqh 2 (الأحكام) * […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: