Jika aqidah tidak lagi dipentingkan (Nasehat Syaikh Al Fauzan)

7 11 2009

Pertanyaan:

Para pemuda zaman sekarang akhir-akhir ini melalaikan dan meninggalkan perkara dan pelajaran aqidah serta tidak memperhatikannya, mereka justru menyibukkan diri dengan perkara lain, apa nasehatmu syaikh yang mulia kepada para pemuda yang seperti ini?

Jawaban syaikh Al Fauzan -hafizhahullah-:

Saya nasehatkan kepada para pemuda itu dan kaum muslimin yang lain agar mereka mementingkan aqidah melebihi perkara lain, karena aqidah merupakan landasan tempat bergantung diterima atau ditolaknya amalan, dan merupakan pondasi seluruh amalan. Jika aqidahnya benar lagi sesuai dengan perkara yang didatangkan para rasul -alaihis sholatu was salam- khususnya penutup para rasul, nabi kita, Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka amalan akan diterima, jika amalan tersebut ikhlas karena wajah Allah ta’ala, dan sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya. Namun jika aqidahnya rusak atau sesat yang didasarkan atas taklid kepada nenek moyang, atau aqidahnya adalah aqidah syirik, maka amalannya semua tertolak, tidak diterima sedikitpun, walaupun dia ikhlas dan memaksudkannya karena wajah Allah. Sebab Allah ta’ala tidak menerima amalan kecuali niatnya ikhlas mengharapkan wajah Allah yang Karim, juga benar berdasarkan sunnah rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Barangsiapa yang ingin dirinya selamat, dan ingin amalannya diterima, serta ingin menjadi seorang muslim yang hakiki, maka dia harus memperhatikan masalah aqidah, dengan mengenal aqidah yang benar dan yang salah, serta mengenal perkara-perkara yang membatalkan dan merusak aqidah tersebut, sehingga setiap amalannya dibangun atas dasar aqidah yang benar. Hal yang demikian itu tidak lah tercapai kecuali dengan mempelajarinya dari para ulama yang mengambil ilmu dari para pendahulu (salaf) umat ini.
Allah ta’ala berfirman kepada nabinya Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

{ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ } [ محمد : 19 . ]
Ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan beristighfarlah terhadap dosa-dosamu dan dosa-dosa kaum mukminin dan mu’minat” (QS Muhammad: 19)
Imam Al Bukhori -rahimahullah- menyusun sebuah tema yang beliau beri judul “Ilmu sebelum berkata dan beramal”, berdalil dengan ayat tersebut dari sisi Allah ta’ala memulai ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
{ وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } [ العصر : 1-3 . ]
Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman beramal shalih, saling berwasiat di dalam kebenaran dan saling berwasiat di dalam kesabaran” (QS Al ‘Asr : 1-3)
Keberuntungan (dalam ayat di atas) ada dalam empat perkara:

  • Perkara pertama: Iman, yaitu aqidah yang benar
  • Perkara kedua: Amalan dan perkataan yang shalih (baik). Perkataan dan perbuatan yang shalih disertakan setelah iman merupakan kekhususan yang disertakan setelah keumuman, karena amalan itu termasuk iman, disertakan amalan tersebut setelah iman karena pentingnya amalan.
  • Perkara ketiga: saling berwasiat di dalam kebenaran, yaitu mereka yang berdakwah menyeru ke jalan Allah, amar ma’ruf nahi munkar. Ketika mereka telah terlebih dahulu memperhatikan diri mereka dan mereka telah mengetahui jalan yang benar, lalu mereka mendakwahi orang lain kepada jalan itu, sebab setiap muslim dibebani untuk mendakwahi manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala, serta amar ma’ruf nahi munkar.
  • Perkara keempat: saling berwasiat dengan kesabaran, yaitu sabar menempuh jalan tersebut dari kelelahan dan kesulitan.

Tidak ada kebahagiaan bagi seorang muslim kecuali jika dia menerapkan keempat perkara ini.
Adapun mementingkan pendidikan kebudayaan dan pendapat-pendapat orang, serta ilmu yang berkaitan dengan alam. Maka ini hanya boleh didalami oleh seseorang jika dia telah dapat menerapkan tauhid dan aqidah yang benar, baru dia boleh mendalami perkara ini. Hal ini agar dia dapat membedakan antara yang benar dan salah, dan agar dia dapat menghindari teori-teori dan seruan yang jelek dan menyesatkan. Akan tetapi setelah dia memahami ilmu syar’i dan iman yang bagus terhadap Allah dan rasul-Nya maka diperbolehkan. Adapun memasuki bidang sosial kebudayaan dan perkara politik tanpa berlandaskan ilmu aqidah dan ilmu agama maka ini merupakan perkara yang tidak ada manfaatnya sedikitpun. Bahkan dia hanya menyita waktunya terhadap perkara yang tidak ada faedahnya, karena dia tidak mampu membedakan yang benar dan yang batil.

Orang yang bodoh dalam perkara aqidah dan mementingkan perkara seperti ini kebanyakan mereka tersesat dan menyesatkan serta membuat samar kepada orang-orang, dengan sebab mereka tidak memiliki bashiroh dan ilmu yang dapat membedakan mana yang berbahaya mana yang bermanfaat, mana yang mesti diambil mana yang mesti ditinggalkan, serta bagaimana cara mengatasi masalah. Oleh karena itu terjadilah kekacauan dan kesamaran di tengah-tengah kebanyakan orang, sebab mereka memasuki wilayah kebudayaan dan politik dan lainnya tanpa memiliki ilmu aqidah dan ilmu syar’i, maka jadilah yang benar itu batil dan yang batil itu benar.

Sumber : Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan jilid 1 bab alilmu wat ta’allum. Diambil dan diterjemahkan dari maktabah syamilah.

-Yoad Nazriga S-


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: