Hukum sholat di belakang ahli bid’ah, fasik, ahli maksiat (Fatwa Syaikh Bin Baaz)

7 11 2009

Pertanyaan:
Bolehkah sholat di belakang orang yang aqidahnya menyelisihi aqidah ahli sunnah wal jama’ah seperti Asy’ari misalnya?

Jawaban (oleh syaikh Bin Baaz -rahimahullah-):
Pendapat yang lebih mendekati kebenaran -wallahu a’lam- adalah setiap yang kita hukumi keislamannya maka sah sholat di belakangnya, dan yang tidak muslim maka tidak sah. Ini adalah pendapat sekelompok dari kalangan ahli ilmu dan inilah pendapat yang paling benar. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak sah sholat di belakang orang ahli maksiat maka pendapat tersebut lemah, dengan dalil bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membolehkan sholat di belakang para penguasa, sementara penguasa kebanyakan mereka berbuat zholim. Ibnu Umar, Anas, dan yang lain mereka sholat di belakang Al Hajjaj yang merupakan orang yang paling zholim. Jadi, sholat sah di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak mengeluarkannya dari keislamannya, atau di belakang orang yang fasik secara zhohir yang kefasikannya tersebut tidak mengeluarkannya dari keislaman. Akan tetapi semestinya dia berwala’ kepada ahli sunnah, Demikianlah jama’ah jika mereka berkumpul di suatu tempat maka semestinya mereka mendahulukan orang yang paling utama dari mereka (untuk menjadi imam).

Sumber: Fatawa Islamiyyah, Kitabul Aqidah, bab Imamatul Mukholif li Ahlis Sunnah





Bagi yang ingin belajar ke negeri kafir

4 03 2009

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Sebagian pemuda ingin belajar kedokteran dan ilmu lainnya. Akan tetapi, ada masalah, seperti ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita), juga berpergian ke luar negeri. Apa nasehatmu untuk para pemuda ini?”

Jawab :
Nasehatku untuk para pemuda ini hendaknya mereka mempelajari ilmu kedokteran, karena di negeri kita (Arab Saudi) sangat membutuhkan dokter. Adapun masalah ikhtilat, Alhamdulillah di negeri kita (Arab Saudi) ini memungkinkan bagi seseorang untuk menjaga diri dari hal itu sesuai kemampuan.

Adapun berpergian ke negeri kafir, maka saya tidak menyarankannya kecuali jika terpenuhi 3 syarat:
1. Dia memiliki ilmu yang dapat menolak syubhat, karena ada orang-orang di negeri kafir yang memberikan syubhat-syubhat kepada para pemuda islam sampai mereka murtad dari agama mereka.
2. Dia memiliki agama yang dapat menolak syahwat. Jangan kamu pergi ke sana dalam keadaan agamamu lemah, sehingga syahwat lebih dominan dan terjerumus kepada kebinasaan.
3. Dia butuh berpergian ke sana disebabkan tidak adanya fasilitas yang dimaksudkan di negeri Islam.

Jika 3 syarat ini terpenuhi, maka pergilah. Tapi jika salah satunya tidak terpenuhi, maka jangan pergi. Sebab menjaga agama lebih utama dibandingkan menjaga yang lain.

Sumber : Kitabul Ilmi (pertanyaan ke-42)





Belajar kimia atau belajar agama??

4 03 2009

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Saya seorang ahli dalam ilmu kimia dan Saya mengikuti kuliah di bidang ini, dengan tujuan untuk mengambil manfaat, dan agar Saya dapat bekerja, baik sebagai pengajar di sekolah atau sebagai pekerja di perusahaan. Perlu diketahui, bahwa mempelajari ilmu kimia tersebut melalaikan Saya dari menuntut ilmu syar’i. Maka bagaimana cara menggabungkan keduanya?”

Jawab :
Saya rasa menggabungkan antara kedua ilmu ini mungkin-mungkin saja, dengan tetap memprioritaskan ilmu syar’i. Jadikan ilmu syar’i itu sebagai pokok bagimu, dan ilmu lainnya sebagai tambahan. Kemudian kamu mempelajari ilmu lain tersebut disebabkan adanya maslahat bagimu atau bagi umat islam. Misalnya kamu menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dengan ilmu (kimia) tersebut, atau yang serupa dengan itu -dan kalian lebih mengetahui tentang ilmu tersebut-.
Dengan demikian,
Saya katakan : teruslah belajar ilmu syar’i, dan belajar juga ilmu lain, tapi jadikan ilmu syar’i yang lebih utama dan lebih prioritas.

Sumber : Kitabul Ilmi (pertanyaan ke-34)