Anjuran Shaum Asyuro

22 12 2009

Oleh : Syaikh Ibnu Baaz -rahimahullah-

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam kepada Rasulullah, keluarga dan sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengambil penjuk beliau.

Amma ba’du:

Sungguh telah sah hadits dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau shaum pada hari Asyuro, serta memotivasi manusia untuk shaum pada hari tersebut, karena hari itu adalah hari disaat Allah memenangkan Nabi Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Maka disunnahkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk shaum pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah, hari itu adalah hari ke-sepuluh dari bulan Muharrom.

Disunnahkan pula shaum sehari sebelum atau sesudahnya (hari ke-9 dan 11), dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi. Jika dia shaum di ketiga hari itu, yaitu hari ke-9, 10, dan 11, maka tidak mengapa, karena telah diriwayatkan dari Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda :

Selisihilah orang-orang Yahudi, shaumlah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya“.

Di dalam riwayat lain,

Shaumlah sehari sebelum atau sehari sesudah“.

Dan telah shahih dari beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau ditanya tentang shaum ‘Arofah, maka beliau menjawab,

Dengannya Allah menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya“.

Hadits-hadits tentang shaum ‘Asyuro dan anjuran untuk melakukannya sangat banyak.

Saya memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin terhadap perkara-perkara yang Dia ridhoi, dan menjadikan kita semua diantara orang-orang yang bersegera melakukan setiap kebaikan. Sesungguhnya dia Jawwaadun Kariim. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa Aalihi wa shohbihi.

Sumber: http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=836

-Yoad Nazriga S-





Barokah Sahur

22 02 2009

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“makan sahur lah kalian, karena di dalam makanan (dan waktu) sahur itu terdapat barokah”

(HR. Bukhori 1923 dan Muslim 1095)

Hadits ini secara zhohir menunjukkan bahwa hukumnya wajib, namun ada hadits lain yang memalingkannya sehingga hukumnya menjadi sunnah.

Barokah = manfaat dunia dan akhirat.

Makna hadits : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan makan sahur dalam rangka persiapan menunaikan shaum Di antara barokah sahur adalah :

  • mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala di waktu siang, sebab orang yang lapar dan haus akan merasa lemah untuk beribadah kepada-Nya
  • orang yang shaum, jika dia sahur, dia tidak bosan untuk mengulangi shaum di hari berikutnya. Berbeda dengan orang yang tidak sahur, dia akan merasa berat untuk meneruskan shaumnya.
  • memperoleh pahala karena mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
  • orang yang sahur, bangun di akhir malam, dia bisa beristigfar dan berdo’a di waktu mustajab tersebut, kemudian shalat subuh berjama’ah. Berbeda dengan orang yang tidak sahur. Ini kenyataan bahwa jumlah orang yang shalat subuh berjama’ah di bulan Ramadhan lebih banyak daripada di bulan-bulan lainnya.
  • sahur merupakan ibadah jika diniatkan agar mendapat kekuatan untuk melakukan keta’atan kepada Allah dan diniatkan dalam rangka mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita melaksanakan anjuran ini (makan sahur), sebab di dalam makanan (dan waktu) sahur tersebut terdapat barokah.

Disadur dari kitab Taisirul A’llam Syarhu ‘Umdatil Ahkam, karya Syaikh Abdullah Al Bassam





Ringkasan Faedah dari Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah tentang Puasa

29 12 2007

Disadur oleh Syaikh Abdullah Al Bassam di dalam kitabnya Taisirul A’lam Syarh ‘Umdatul Ahkam


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :

Berdasarkan nash dan ijma’, makan, minum, dan jima’ membatalkan puasa. Telah ditetapkan dari As Sunnah dan ijma’ bahwa darah haid juga membatalkan puasa, maka tidak boleh berpuasa bagi wanita yang sedang haid, akan tetapi ia harus mengqodo’nya (menggantinya dengan hari lain).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “berlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ketika wudhu’ – pent), kecuali kalau kamu sedang berpuasa“. Hal ini menunjukkan bahwa masuknya air ke dalam hidung membatalkan puasa.

Berkata Al Khotobi : Saya tidak mengetahui adanya perselisihan di antara ahli ilmu tentang siapa yang muntah, maka puasanya tidak diqodo’ (tidak batal), tetapi bila ia muntah dengan sengaja maka wajib atasnya qodo’ (menggantinya dengan hari lain). Orang yang mimpi basah tanpa direkayasa, maka puasanya tidak batal berdasarkan kesepakatan. Adapun orang yang melakukan onani, lalu air maninya keluar, maka puasanya batal.

Sungguh telah jelas di dalam Al Kitab dan As Sunnah bahwasanya siapa saja yang melakukan sesuatu yang dilarang karena keliru atau lupa, maka Allah tidak menghukumnya, kondisinya sama seperti tidak melakukannya, sehingga tidak ada dosa baginya, dan tidak juga membatalkan ibadahnya. Maka orang yang puasa jika dia makan atau minum atau melakukan jima’ karena lupa atau keliru maka tidak ada qodo’ baginya (tidak batal), dan inilah pendapat dari kalangan orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan.

Adapun celak, obat tetes mata, dan suntikan terdapat perselisihan di antara ahli ilmu, sebagian mereka berpendapat tidak membatalkan puasa sedikitpun, sebagian lain berpendapat membatalkan puasa. Yang benar adalah tidak membatalkan puasa sedikitpun, karena puasa merupakan bagian dari agama kaum muslimin yang membutuhkan kepada pengenalan khusus dan umum, seandainya perkara-perkara tersebut diharamkan pada puasa oleh Allah dan Rasul-Nya, dan merusak puasa, maka pastilah ada penjelasan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan pastilah para Shahabat mengetahuinya dan mereka menyampaikannya kepada ummat sebagaimana mereka menyampaikan syari’at Rasul. Tatkala tidak ada seorangpun dari para ulama yang menukilnya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, tidak juga ada hadist shahih bahkan hadist dhoif dan mursal, maka dipastikan bahwa Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan tentang hal itu.

Hadist yang diriwayatkan tentang celak adalah dhoif (lemah), orang-orang yang mengatakan bahwa perkara-perkara tersebut membatalkan puasa, tidaklah ada hujjah (argumen) bagi mereka melainkan qiyas. Dan hujjah (argumen) yang paling kuat bagi mereka tentang ini adalah hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallamberlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ketika wudhu’ – pent), kecuali kalau kamu sedang berpuasa“, ini adalah qiyas yang lemah. Sebab orang yang melakukan istinsyaq dengan sungguh-sungguh menyebabkan air masuk ke dalam kerongkongan dan ke dalam perut, maka sama lah ia seperti minum melalui mulutnya, air tesebut mengenyangkan badannya dan melepaskan dahaganya. Seandainya pun perkara ini tidak dijelaskan melalui nash, maka akal pasti mengetahui bahwa melakukan hal ini sama saja dengan minum.

Orang yang puasa dilarang dari makan dan minum karena hal itu menjadi sebab ketaqwaan, tetapi tidak demikian halnya dengan celak dan suntikan, perkara-perkara ini tidak mengenyangkan badan sedikitpun.

Adapun jima’, maka ini termasuk salah satu di antara dua syahwat, melakukannya sama seperti halnya makan dan minum. Berkata Allah Ta’ala di dalam hadist qudsi, “dia meninggalkan syahwatnya dan makanannya dengan sebab Aku“, maka meninggalkan syahwat merupakan ibadah yang diberi pahala atasnya. Keluarnya mani sama seperti halnya dengan keluarnya muntah. Orang yang berpuasa dilarang dari memasukkan sesuatu yang memperkuat tubuhnya dan mengenyangkannya dengan makanan dan minuman. Orang yang puasa juga dilarang dari mengeluarkan sesuatu yang memperlemah dirinya dan mengeluarkan makanan yang telah mengenyangkannya, maka jadilah perkara tersebut merusak puasanya melebihi merusaknya puasa oleh makanan.

Para ulama berselisih tentang bekam, apakah ia membatalkan puasa atau tidak? Hadist-hadist dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang berkenaan dengan itu tentang perkataan Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang membekam dan orang yang dibekam batal puasanya” cukup banyak dan sungguh telah dijelaskan oleh para imam Huffazh. Tidak satu dari Shahabat yang memakruhkan bekam bagi orang yang berpuasa. Pendapat yang menyatakan batal adalah mazhab kebanyakan ahli hadist, dan merekalah orang yang paling mengkhususkan diri mengikuti Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang yang berpendapat bahwa bekam tidak membatalkan puasa, berargumen dengan hadist shahih bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berbekam sementara beliau sedang berpuasa dan sedang melakukan ihram. Imam Ahmad dan selainnya mencela adanya tambahan “sementara beliau sedang puasa. Yang benar adalah bahwa beliau berbekam sementara beliau sedang melakukan ihram (saja), karena dengan tujuan apapun secara sengaja mengeluarkan darah, maka hal itu membatalkan puasa.

Siwak boleh tanpa diperselisihkan, tetapi para ulama berbeda pendapat tentang makruhnya siwak setelah tergelincirnya matahari (setelah zuhur hari -pent), akan tetapi kemakruhan tersebut tidak dilandaskan pada dalil syar’i yang mengkhususkan (waktu tersebut) dari keumuman dalil tentang siwak (kapan saja).

Mencicipi makanan hukumnya makruh bila tanpa kebutuhan tetapi tidak membatalkan puasa. Adapun bila ada kebutuhan, maka hal tersebut tidaklah makruh.

Diterjemahkan oleh Yoad Abu Dawud Al Fakanbary