Sebab-sebab lemahnya umat islam saat ini

7 11 2009

Yang dimaksud dengan lemah di sini adalah lemah iman dan lemahnya mereka dalam berpegangteguh terhadap agama dan mereka hanya mengandalkan pesatnya pertumbuhan islam tanpa penerapan atas ajarannya. Tidak diragukan lagi bahwa ada berbagai sebab diantaranya yang saya saksikan adalah banyaknya orang yang menyeru kepada kerusakan dan kemungkaran serta kemaksiatan dengan perkataan dan perbuatan sehingga manusia merasa berat melakukan ketaatan dan jiwa mereka cenderung kepada syubhat yang diharamkan seperti berzina, minum khomar, mendengar nyanyian, dan semisalnya. Mereka juga menyeru untuk ikhtilath (campur baur antar lawan jenis) dan mereka membuat wanita bertabarruj (berhias) dan bersafar tanpa mahrom, mereka menjadikan hal tersebut sebagai haknya wanita, mereka juga menyerukan agar para wanita diberi kebebasan dan tindakan, sehingga mereka membuat para wanita ridho dengan dirinya yang seperti itu walau bapaknya dan suaminya tidak senang dengan hal itu, tidak ada hukuman bagi para wanita tersebut bahkan kepada orang yang berzina dengan mereka pun tidak ada hukuman.

Asyiknya mereka dengan syubhat-syubhat tersebut membuat mereka merasa berat untuk melakukan shalat dan mereka memisahkan diri dari masyarakat, mereka tidak melakukan kewajiban malah saling bertransaksi minuman khomar dan narkoba, yang menjadi sebab lemahnya iman di dalam hati-hati umat islam.

Diantara sebab lemahnya umat islam juga adalah banyaknya kerusakan dengan menyebarnya film-film porno dan musik-musik serta gambar wanita telanjang seperti berpakaian tapi telanjang. Mereka asyik dengan perkara-perkara yang haram tersebut sehingga lemahlah iman di dalam hati mereka.

Diantara sebab lemahnya umat islam adalah terbukakannya dunia kepada sebagian besar manusia dan mereka sibuk dengan seluruh perkara yang fana dan berpaling dari ilmu, amal dan melupakan usaha untuk hari akhir terhadap seluruh harta dan perdagangan serta pekerjaan, yang menyebabkan mereka lupa terhadap hak-hak Allah dan mereka justru mengutamakan syubhat dan yang disenangi oleh hawa nafsu, mereka berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan hal itu.

Diantara sebab lemahnya iman juga adalah lemahnya para da’i yang menyeru kepada islam yang hakiki, sedikitnya ilmu mereka yang shahih, dan mereka rela dengan sedikitnya amal dan ridho dengan banyaknya kerusakan dan maksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ketika umat islam lemah iman dan amalan serta rusaknya fitrah dan asyiknya mereka dengan kelalaian dan syahwat serta berpalingnya dari perkara akhirat, maka dampaknya adalah lemahnya mereka secara jasmani dan kuatnya musuh-musuh mereka di setiap penjuru, kemudian menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Tidak ada kekuatan bagi kaum muslimin baik jasmani maupun rohani sehingga kuat lah kaum kuffar. Inilah yang terjadi di kebanyakan negeri islam yang dikuasai oleh para musuh, dan dikuasai oleh pemerintahan yang jelek, yang merendahkan dan menyengsarakan mereka. Umat islam tidak akan mencapai kejayaan sampai mereka kembali kepada agama mereka (agama islam).

Sumber : Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, bab Asbaabu Dho’fi Ummatil Islamiyyah al Yaum, diterjemahkan dari maktabah syamilah

-Yoad Nazriga S-





Jika aqidah tidak lagi dipentingkan (Nasehat Syaikh Al Fauzan)

7 11 2009

Pertanyaan:

Para pemuda zaman sekarang akhir-akhir ini melalaikan dan meninggalkan perkara dan pelajaran aqidah serta tidak memperhatikannya, mereka justru menyibukkan diri dengan perkara lain, apa nasehatmu syaikh yang mulia kepada para pemuda yang seperti ini?

Jawaban syaikh Al Fauzan -hafizhahullah-:

Saya nasehatkan kepada para pemuda itu dan kaum muslimin yang lain agar mereka mementingkan aqidah melebihi perkara lain, karena aqidah merupakan landasan tempat bergantung diterima atau ditolaknya amalan, dan merupakan pondasi seluruh amalan. Jika aqidahnya benar lagi sesuai dengan perkara yang didatangkan para rasul -alaihis sholatu was salam- khususnya penutup para rasul, nabi kita, Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka amalan akan diterima, jika amalan tersebut ikhlas karena wajah Allah ta’ala, dan sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya. Namun jika aqidahnya rusak atau sesat yang didasarkan atas taklid kepada nenek moyang, atau aqidahnya adalah aqidah syirik, maka amalannya semua tertolak, tidak diterima sedikitpun, walaupun dia ikhlas dan memaksudkannya karena wajah Allah. Sebab Allah ta’ala tidak menerima amalan kecuali niatnya ikhlas mengharapkan wajah Allah yang Karim, juga benar berdasarkan sunnah rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Barangsiapa yang ingin dirinya selamat, dan ingin amalannya diterima, serta ingin menjadi seorang muslim yang hakiki, maka dia harus memperhatikan masalah aqidah, dengan mengenal aqidah yang benar dan yang salah, serta mengenal perkara-perkara yang membatalkan dan merusak aqidah tersebut, sehingga setiap amalannya dibangun atas dasar aqidah yang benar. Hal yang demikian itu tidak lah tercapai kecuali dengan mempelajarinya dari para ulama yang mengambil ilmu dari para pendahulu (salaf) umat ini.
Allah ta’ala berfirman kepada nabinya Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

{ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ } [ محمد : 19 . ]
Ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan beristighfarlah terhadap dosa-dosamu dan dosa-dosa kaum mukminin dan mu’minat” (QS Muhammad: 19)
Imam Al Bukhori -rahimahullah- menyusun sebuah tema yang beliau beri judul “Ilmu sebelum berkata dan beramal”, berdalil dengan ayat tersebut dari sisi Allah ta’ala memulai ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
{ وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } [ العصر : 1-3 . ]
Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman beramal shalih, saling berwasiat di dalam kebenaran dan saling berwasiat di dalam kesabaran” (QS Al ‘Asr : 1-3)
Keberuntungan (dalam ayat di atas) ada dalam empat perkara:

  • Perkara pertama: Iman, yaitu aqidah yang benar
  • Perkara kedua: Amalan dan perkataan yang shalih (baik). Perkataan dan perbuatan yang shalih disertakan setelah iman merupakan kekhususan yang disertakan setelah keumuman, karena amalan itu termasuk iman, disertakan amalan tersebut setelah iman karena pentingnya amalan.
  • Perkara ketiga: saling berwasiat di dalam kebenaran, yaitu mereka yang berdakwah menyeru ke jalan Allah, amar ma’ruf nahi munkar. Ketika mereka telah terlebih dahulu memperhatikan diri mereka dan mereka telah mengetahui jalan yang benar, lalu mereka mendakwahi orang lain kepada jalan itu, sebab setiap muslim dibebani untuk mendakwahi manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala, serta amar ma’ruf nahi munkar.
  • Perkara keempat: saling berwasiat dengan kesabaran, yaitu sabar menempuh jalan tersebut dari kelelahan dan kesulitan.

Tidak ada kebahagiaan bagi seorang muslim kecuali jika dia menerapkan keempat perkara ini.
Adapun mementingkan pendidikan kebudayaan dan pendapat-pendapat orang, serta ilmu yang berkaitan dengan alam. Maka ini hanya boleh didalami oleh seseorang jika dia telah dapat menerapkan tauhid dan aqidah yang benar, baru dia boleh mendalami perkara ini. Hal ini agar dia dapat membedakan antara yang benar dan salah, dan agar dia dapat menghindari teori-teori dan seruan yang jelek dan menyesatkan. Akan tetapi setelah dia memahami ilmu syar’i dan iman yang bagus terhadap Allah dan rasul-Nya maka diperbolehkan. Adapun memasuki bidang sosial kebudayaan dan perkara politik tanpa berlandaskan ilmu aqidah dan ilmu agama maka ini merupakan perkara yang tidak ada manfaatnya sedikitpun. Bahkan dia hanya menyita waktunya terhadap perkara yang tidak ada faedahnya, karena dia tidak mampu membedakan yang benar dan yang batil.

Orang yang bodoh dalam perkara aqidah dan mementingkan perkara seperti ini kebanyakan mereka tersesat dan menyesatkan serta membuat samar kepada orang-orang, dengan sebab mereka tidak memiliki bashiroh dan ilmu yang dapat membedakan mana yang berbahaya mana yang bermanfaat, mana yang mesti diambil mana yang mesti ditinggalkan, serta bagaimana cara mengatasi masalah. Oleh karena itu terjadilah kekacauan dan kesamaran di tengah-tengah kebanyakan orang, sebab mereka memasuki wilayah kebudayaan dan politik dan lainnya tanpa memiliki ilmu aqidah dan ilmu syar’i, maka jadilah yang benar itu batil dan yang batil itu benar.

Sumber : Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan jilid 1 bab alilmu wat ta’allum. Diambil dan diterjemahkan dari maktabah syamilah.

-Yoad Nazriga S-





Bab Air (Hadits 8) : Apabila anjing menjilati air di dalam wadah

30 10 2009

Hadits 8

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
((طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات, أولاهن بالتراب)) صحيح أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairoh –radiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Sucinya wadah salah seorang di antara kalian apabila anjing menjilat di dalamnya adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama kalinya dengan debu [Shahih riwayat Muslim]

في لفظ (( فليرقه )) وللترمذي (( أخراهن, أو أولاهن بالتراب

Dalam riwayat lain, “maka hendaknya ia menumpahkannya (terlebih dahulu)”, oleh At Tirmidzi “terakhirnya, atau yang pertamanya dengan debu”

Kosakata Hadits

  • kata طهور (thuhur) merupakan isim mashdar.
  • kata ولغ (walagho) = menjilat, artinya meminum dengan ujung lidah, dan ini cara minum anjing dan hewan-hewan buas lainnya.
  • kata التراب (at-turob) = debu, yaitu sesuatu yang halus di permukaan tanah.
  • kata فليرقه (falyuriqhu) yaitu hendaknya ia menumpahkannya (air) ke tanah.
  • kata أخراهن, أو أولاهن (ukhoohunna aw uulahunna) = yang pertamannya atau yang terakhirnya. Yang rajih bahwa ini adalah keraguan dari perawi hadits, bukan maksudnya boleh memiliih (antara yang pertama atau yang terakhir), riyawat “ulaahunna” (yang pertamanya) lebih rajih karena banyaknya riwayat tentangnya, dan karena diriwayatkan oleh Bukhori Muslim (syaikhoin), dan juga karena debu jika digunakan pada cucian pertama maka itu lebih bersih (dibandingkan jika debunya digunakan pada cucian yang terakhir).

Faedah Hadits

  1. Anjing itu najis, demikian juga anggota tubuh dan kotorannya, seluruhnya najis.
  2. Najisnya adalah najis yang paling berat.
  3. Tidak cukup untuk menghilangkan najisnya dan bersuci darinya kecuali dengan tujuh kali cucian.
  4. Jika anjing menjilat ke dalam wadah, maka tidak cukup membersihkan jilatannya dengan dibersihkan saja, tetapi mesti dengan menumpahkan isi di dalamnya kemudian mencuci wadah tersebut sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan debu.
  5. Wajibnya menggunakan debu sekali dari tujuh kali cucian, dan yang lebih utama pada cucian pertama sehingga air digunakan untuk cucian selanjutnya.
  6. Penggunaan debu tidak boleh digantikan dengan pembersih lainnya karena:
    • Dengan debu dihasilkan kebersihan yang tidak diperoleh jika menggunakan bahan pembersih lain.
    • Tampak dari kajian ilmiah bahwa debu memiliki kekhususan dalam membersihkan najis ini, tidak seperti pada bahan pembersih lainnya. Ini merupakan salah satu mukjizat ilmiah pada syariat Muhammad ini yang beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.
    • Sesungguhnya debu adalah kata yang tercantum di dalam hadits, wajib kita mengikuti nash. Seandainya ada benda lain yang boleh menggantikannya maka tentu telah datang nash yang menjelaskannya. “Dan tidaklah Rabb-mu lupa” (al ayah).
  7. Menggunakan debu boleh dengan mencampurkan air dengan debu atau mencampurkan debu dengan air atau dengan mengambil debu yang telah bercampur dengan air, lalu tempat yang terkena najis dicuci dengannya. Adapun dengan mengusap tempat najis dengan debu saja, maka tidak sah.
  8. Telah tetap secara medis dan terungkap melalu alat mikroskop dan alat modern lainnya bahwa di dalam air liur anjing terdapat mikroba dan penyakit yang mematikan dan air saja tak dapat menghilangkannya kecuali disertai dengan debu. Tidak ada cara lain. Maha suci Allah Yang Maha Mengetahui lagi Memberi tahu.
  9. Makna lahiriyah hadits ini adalah umum untuk seluruh jenis anjing, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Akan tetapi sebagian ulama mengatakan, “anjing untuk berburu, menjaga kebun, anjing peliharaan adalah anjing-anjing yang dikecualikan dari keumuman ini. Hal ini berdasarkan pada kaidah toleransinya syariat dan kemudahannya. “Kesulitan dapat menarik kemudahan”.
  10. Sahabat-sahabat kami menyamakan anjing dengan babi di dalam kenajisannya yang berat, dan hukum mencuci najisnya babi sama dengan mencuci najisnya anjing. Akan tetapi jumhur ulama menyelisihi pendapat ini, mereka TIDAK menyamakan hukum mencuci najis babi dengan mencuci najis anjing yang tujuh kali dan berurutan. Mereka mencukupkan apa yang ada di dalam nash. Selain itu illah (alasan) hukum di dalam beratnya najis anjing tidak jelas.

Perbedaan pendapat ulama terhadap wajibnya menggunakan debu

  • Madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa yang wajib adalah mencuci tujuh kali, adapun penggunaan debu bersama tujuh kali cucian hukumnya tidak wajib. Hal ini karena kegoncangan (idhtirob)nya periwayatan hadits tentang pencuciannya yang disertai dengan debu, di dalam sebagian riwayat debu tersebut pada cucian pertama, di sebagian riwayat lain pada cucian terakhir, dan di riwayat lain tidak menentukan urutannya hanya menyebutkan “salah satunya dengan debu”.
    Oleh karena idhtirob ini maka gugurlah hukum wajib penggunaan debu, karena “asal”nya adalah tidak adanya hukum wajib.
  • Imam Syafi’i dan Ahmad serta pengikut-pengikut mereka dan kebanyakan madzhab azh zhohiriyah, Ishaq, Abu Ubaidah, Abu Tsaur, Ibnu Jarir, dan yang lainnya mensyaratkan penggunaan debu. Jika najis anjing dicuci tanpa debu maka tidak suci. Hal ini berdasarkan nash yang shahih. Adapun celaan idhtirob pada periwayatannya ini tertolak. Dihukumi gugurnya suatu periwayatan karena idhtirob hanyalah jika idhtirobnya pada seluruh sisi, adapun jika sebagian sisi hadits unggul atas sebagian yang lain –sebagaimana dalam kasus ini- maka yang dijadikan hukum adalah riwayat yang rajih, sebagaimana yang ditetapkan di dalam ilmu ushul fiqh. Dan di sini, yang rajih adalah riwayat Muslim, yaitu penggunaan debu pada cucian yang pertama.

Perbedaan pendapat ulama, apakah najisnya anjing ini khusus pada mulut dan air liurnya saja, atau umum seluruh badan dan anggota tubuhnya?

  • Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa najisnya adalah umum untuk seluruh badannya, dan mencuci dengan cara seperti ini juga berlaku secara umum. Mereka menyamakan badan anjing dengan mulutnya.
  • Imam Malik dan Dawud berpendapat bahwa hukum tersebut hanya sebatas untuk lidah dan mulut anjing, mereka memandang bahwa perkara mencuci ini adalah dalam rangka ta’abbudi (ibadah) bukan semata-mata karena najis. Perkara ibadah hanya dibatasi pada nash dan tidak melebihinya karena tidak adanya illah (alasan hukum).

Pendapat pertama lebih rajih (unggul) karena:

  • Ditemukan di dalam badan anjing beberapa bagian yang lebih najis dan lebih kotor dari mulut dan lidahnya.
  • Asal di dalam hukum adalah ta’lil, maka dibawa kepada yang umum.
  • Sekarang tampak bahwa najisnya anjing adalah najis mikroba, maka sudah tidak menjadi hukum yang bisa dicari illahnya, hanyalah hukumnya berdasarkan hikmah yang jelas.
    Imam Asy Syafi’i berkata, “seluruh anggota badan anjing berupa tangannya, telinganya, kakinya, atau anggota badan apapun jika masuk ke dalam wadah, maka wadah tersebut dicuci tujuh kali setelah menumpahkan isi (air) di dalam wadah.
  • Prof. Thobaroh berkata di dalam bukunya “ruhuddin al islamiy”, “di antara hukum islam adalah menjaga badan dari najisnya anjing. Ini adalah mukjizat ilmiah bagi Islam yang telah mendahului ilmu kedokteran modern, dimana telah ditetapkan bahwa anjing menularkan kebanyakan dari penyakit kepada manusia. Sebab anjing mengandung cacing pita yang dapat menyebabkan penyakit kronis berbahaya bagi manusia. Telah ditetapkan bahwa seluruh jenis anjing tidak terlepas dari cacing pita ini, maka harus dijauhi dari seluruh hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia.”

(selesai)

Diterjemahkan dari kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Marom karya Syaikh Abdullah Al Bassam hafizhohullah, oleh Yoad Nazriga S

Pertanyaan:

  1. Apakah yang mesti dilakukan jika seekor anjing menjilati air di dalam wadah?
  2. Apakah hukum mencuci sebanyak tujuh kali dengan debu pertamanya berlaku pada seluruh jenis anjing? apakah berlaku pada babi?
  3. Apa hikmah penggunaan debu pada pensucian najis anjing?
  4. Bolehkah debu diganti dengan bahan pembersih lainnya?

Dapat juga dilihat di: Kajian Bulughul Marom l Facebook





Bab Air (Hadits 6-7) : Bolehkah seorang laki-laki mandi atau berwudhu’ dengan air bekas bersuci wanita?

30 10 2009

Hadits 6:

عَنْ رَجُلٍ صَحِبَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ
نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ تَغْتَسِلَ اَلْمَرْأَةُ بِفَضْلِ اَلرَّجُلِ , أَوْ اَلرَّجُلُ بِفَضْلِ اَلْمَرْأَةِ , وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا
Dari seorang sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita (istri) mandi dengan air bekas mandi laki-laki (suami), atau laki-laki (suami) mandi dengan air bekas mandi wanita (istri), dan hendaknya mereka berdua menciduk air bersama-sama.”
Dikeluarkan oleh Abu Dawud, An Nasa-i, dan sanad-sanadnya shahih.

Derajat hadits:

Hadits ini shahih.

Asy Syaukani berkata yang ringkasnya, “Al Baihaqi menyatakan hadits ini mursal, dan Ibnu Hazm menyatakan bahwa Dawud meriwayatkannya dari Hamid bin Abdirrahman Al Himyari yang dhoif. An Nawawi berkata, “para Hafidz sepakat atas kedhoifan hadits ini”. Ini adalah sisi celaan.
Adapun yang men-tsiqoh-annya.
At- Tirmidzi berkata, “hadits ini hasan”. Ibnu Majah berkata, “hadits ini shahih”.
Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari, “sungguh An Nawawi telah asing ketika menyatakan ijma’ atas kedhoifannya, padahal perawi-perawinya tsiqoh (terpercaya).
Dan celaan Al Baihaqi atas mursalnya hadits ini tertolak, karena mubham (ketidakjelasan) sahabat tidak mengapa. Celaan Ibnu Hazm atas dhoifnya Hamid Al Himyari tertolak, karena ia bukan Hamid bin Abdullah Al Himyari tetapi Hamid bin Abdirrahman Al Himyari, dan perawi ini tsiqoh (terpercaya) lagi faqih.
Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan di Bulughul Marom bahwa sanad-sanadnya shahih.
Ibnu Abdil Hadiy berkata di Al Muharrar, “Al Humaidi menshahihkannya”, dan Al Baihaqi berkata, “perawi-perawinya tsiqoh (terpercaya)”.

Faedah Hadits:

  1. Larangan bagi laki-laki mandi dengan air bekas bersuci wanita.
  2. Larangan bagi wanita mandi dengan air bekas bersuci laki-laki.
    Yang disyariatkan adalah mandi bersama dan mengambil air bersama.
    Ada hadits di Shahih Bukhori dari Ibnu Umar bahwa dahulu laki-laki dan wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka wudhu’ bersama-sama, di dalam riwayat Hisyam bin Ammar dari Malik berkata, “di dalam satu wadah”, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dari jalur lain.
  3. Kemutlakan ini dimuqoyyad (dibatasi) bahwa maksudnya bukan laki-laki yang asing bagi wanita, akan tetapi maksud dari laki-laki dan wanita tersebut adalah suami istri, atau orang yang dihalalkan melihat anggota-anggota wudhu’.

Hadits 7:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا
أخرجه مسلم
وَلِأَصْحَابِ ” اَلسُّنَنِ “اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي جَفْنَةٍ , فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا , فَقَالَتْ لَهُ : إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا , فَقَالَ : “إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُجْنِبُ”

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dengan air bekas mandinya Maimunah radiyallahu ‘anha.
Dikeluarkan oleh Muslim.
Oleh ashabus sunan, “sebagian istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Maimunah) mandi di dalam bak. Lalu beliau datang untuk mandi dengan airnya. Lalu Maimunah berkata, “Saya sedang junub”, lalu beliau bersabda, “sesungguhnya air tidak tercemar oleh junub”.

Derajat Hadits:

Hadits ini shahih.

Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim telah tercacati dengan pertentangan di riwayat Amr bin Dinar. Akan tetapi telah ada hadits di Shahihain secara terpelihar tanpa pertentangan, dengan lafadz, “bahwa nabi –shallalahu ‘alaihi wa sallam- dan Maimunah mandi berdua di dalam satu bak.” Lafadz ini jika tidak bertentangan dengan riwayat Muslim, maka yang bertentangan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ashabussunnan, dan inilah yang benar.
Ibnu Abdil Haadi berkata di Al Muharror, “At Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Adz Dzahabi menshahihkannya.
Ibnu Hajar berkata di At Talkhis, “beberapa ulama mencacati hadits ini dengan Simak bin Harb riwayat dari Ikrimah, karena dia menerima talqin, akan tetapi diriwayatkan dari Syu’bah. Dan Syu’bah tidaklah mengambil dari Syaikhnya melainkan shahih haditsnya.

Faedah Hadits:

  1. Bolehnya seorang laki-laki mandi dengan air bekas bersucinya wanita walaupun wanita tersebut junub, dan kebalikannya lebih diperbolehkan bagi wanita untuk mandi dengan air bekas bersucinya laki-laki.
  2. Mandinya orang yang junub atau wudhu’nya orang yang berwudhu dari wadah tidak memberikan dampak terhadap kesucian air, maka air tetap dalam kesuciannya.
  3. Al Wazir dan An Nawawi menceritakan adanya ijma’ atas bolehnya laki-laki berwudhu’ dengan air bekas bersucinya wanita walaupun mereka tidak wudhu’ bersama. Kecuali ada salah satu riwayat dari Ahmad, yaitu riwayat yang masyhur bagi pengikutnya. Dan riwayat lain, beliau berkata di Al Inshof, dan dari Imam Ahmad, “hilangnya hadats laki-laki tersebut” dan inilah pendapat yang benar dari dua pendapat yang ada, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu ‘Uqoil dan Abu Khottob dan Al Majid.
    Dikatakan di Syarhul Kabir, “inilah madzhab imam yang tiga”.
    Adapun wudhu’nya wanita dengan air bekas bersucinya laki-laki maka boleh tanpa ada perbedaan pendapat.

Diterjemahkan dari kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Marom karya Syaikh Abdullah Al Bassam hafizhohullah

Tambahan:

Jumhur ulama dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa tidak mengapa laki-laki (suami) berwudhu’ atau mandi dengan air bekas wudhu’nya wanita (istri), berdasarkan hadits Maimunah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Hadits 7 di atas), dan hadits ini lebih shahih dibandingkan hadits 6. Kebanyakan ulama mendho’ifkan hadits 6, (seperti Imam Bukhori, An Nawawi, Ibnul Qoyyim, dll.) (http://hawaa.elaana.com/show-12290.html)

Namun, ada juga ulama yang menshahihkan hadits 6 tersebut seperti Syaikh Al Albani di kitab Shahih Abu Dawud, dishahihkan juga oleh Syaikh Al Bassam (seperti keterangan di atas). Karena hadits-hadits tersebut shahih, maka sebagian ulama berusaha menjama’ (mengkombinasikan) antar hadiits-hadits tersebut, cara mengkombinasikannya yaitu hadits 6 di atas merupakan larangan yang tidak berkonsekuensi haram, akan tetapi larangan tersebut hanya untuk menjaga kebersihan saja, dan bermakna lebih utama meniggalkannnya, tetapi jika dia melakukannya maka tidak mengapa.
Berkata Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah, “larangan tersebut dimaknai untuk kebersihan sehingga terjama’lah dalil-dalil yang ada, ketika air lain ada maka sebaiknya mandi dengannya, tidak dengan air bekas bersuci wanita. Adapun jika butuh untuk menggunakan air bekas bersuci wanita, maka hilanglah hukum makruhnya, karena mandi itu wajib dan wudhu juga wajib, tidak ada kemakruhan ketika kondisinya butuh untuk menggunakan air tersebut. Jika Anda menemukan air yang banyak, maka lebih baik si laki-laki tidak mandi dengan air bekas wanita, dan wanita tidak mandi dengan air bekas laki-laki.” Demikian juga pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulllah.
Bisa dibaca lebih lanjut di : http://islamqa.com/ar/ref/129160 dan http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=1083298

Kesimpulan:
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah lebih utama bagi seorang laki-laki (suami) tidak mandi atau berwudhu’ dengan air bekas bersuci wanita (istri), tetapi jika dalam keadaan butuh, maka tidak mengapa menggunakannya. Wallahu a’lam.

(selesai)

Disusun oleh Yoad Nazriga S

Pertanyaan:

  1. Bagaimana derajat hadits 6 di atas? Apakah ada perbedaan pendapat ulama tentang derajat hadits 6 tersebut? Jelaskan!
  2. Jika hadits 6 tersebut dho’if, bagaimana hukumnya seorang laki-laki mandi atau berwudhu’ dengan air bekas bersuci wanita?
  3. Jika hadits 6 tersebut shahih, bagaimana cara mengkombinasikannya dengan hadits 7 (yang menunjukkan bolehnya laki-laki mandi dengan air bekas mandinya wanita)?
  4. Apakah air bekas mandi wanita menjadi ternajisi?

Dapat juga dilihat di : Kajian Bulughul Marom l Facebook





Bab Air (Hadits 5) : Larangan kencing atau mandi janabah di dalam air yang tenang

30 10 2009

Hadits ke-5 Bulughul Marom:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ –رضي الله عنه- قالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ –صلى الله عليْه و سلم- : ((لاَ يَـغْـتَـسِـلْ أَحَــدُكُمْ و هُـوَ جُـنُـبٌ)) أخرجه مسلم, وللبخاري : ((لاَ يَـبُـولُـنَّ أحـدُكم فِـي الـمــَاءِ الـدَائـمِ الـذِي لاَ يَـجْـرِي, ثُـمَّ يَـغْـتَـسِـلُ فِـيـه)) ولـمُسلم ((مِـنـْهُ) ولأبـي داود : ((ولا يَـغْـتَـسِـلْ فـيـه مِـن الـجَـنـابَـةِ))

Dari Abu Huroiroh radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang tenang sementara dia dalam keadaan junub” dikeluarkan oleh Muslim.

Oleh Bukhori, “Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di dalam air yang tenang yang tidak mengalir, kemudian dia mandi di dalamnya”. Oleh Muslim, “darinya”.

Oleh Abu Dawud “Janganlah dia mandi janabah di dalamnya”.

Kosa Kata:

  • Kata الدائم (ad daa-im) artinya tenang dan diam (tidak mengalir)
  • Kata الذي لا يجري (alladzi laa yajri) = yang tidak mengalir, merupakan penafsiran dari air yang tenang.
  • Kata جنب (junub) artinya mengalami janabah, yaitu hadats yang diakibatkan oleh hubungan intim suami-istri atau keluarnya air mani.
  • Kata منه (minhu) = darinya, memberikan makna larangan mengambil air (bekas dikencingi) dari dalam suatu tempat dan mandi di luar tempat tersebut (tidak mencebur ke dalamnya).
  • Kata فيه (fiihi) = di dalamnya, memberikan makna larangan mencebur (masuk) ke dalam tempat air (bekas dikencingi) tersebut.
  • Kata جنابة (janabah) adalah sifat bagi orang yang keluar air maninya atau dengan sebab hubungan intim, sampai ia bersuci.

Faedah Hadits:

  1. Larangan mandi janabah di dalam air yang tenang (tidak mengalir).
  2. Larangan berkonsekuensi haram, maka haram mandi janabah di dalam air yang tenang.
  3. Larangan ini (mandi janabah di dalam air yang tenang) menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang (yaitu rusaknya air bekas mandi janabah).
  4. Larangan kencing di dalam air yang tenang, kemudian mandi janabah di dalamnya.
  5. Larangan berkonsekuensi haram, maka haram mandi janabah di dalam air yang dikencingi.
  6. Larangan ini (mandi janabah di dalam air yang dikencingi) juga menunjukkan rusaknya yang dilarang (yaitu rusaknya air bekas dikencingi dan mandi janabah).
  7. Secara zhohir, hadits ini tidak membedakan antara air yang sedikit ataupun banyak.
  8. Rusak yang diakibatkan oleh kedua larangan tersebut adalah rusaknya air, karena menjadi kotor dan menjijikkan bagi orang-orang yang akan menggunakannya. Dan akan dijelaskan –insyaAllah- perbedaan pendapat mengenai air musta’mal (air bekas digunakan), apakah menggunakannya untuk thoharoh (bersuci) akan menghasilkan kesucian atau tidak.
  9. Larangan dari kencing atau mandi di dalam air yang tenang tidak secara mutlak berdasarkan kesepakatan. Air yang sangat banyak tidak termasuk yang dilarang berdasarkan kesepakatan, dan peng-khusus-an (air yang sangat banyak) ini dikhususkan oleh ijma’.
  10. Imam Ash Shon’ani berkata di Subulus Salam, “yang sesuai dengan kaidah bahasa arab bahwa yang dilarang di dalam hadits adalah menggabungkan (kencing kemudian mandi sekaligus), karena kata ثم (kemudian) tidak memberikan makna sebagaimana yang diberikan oleh wawu ‘athof (= dan), kata ثم memberikan makna gabungan dan berurutan (kencing kemudian mandi sekaligus di dalam air yang sama).
  11. Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “larangan menggabungkan (kencing kemudian mandi) diambil dari satu hadits, dan larangan dari masing-masing (mandi saja atau kencing saja) diambil dari hadits lain”
    Riwayat-riwayat yang ada di bab ini memberi faedah antara lain:

    • Riwayat Muslim: larangan dari mandi dengan mencebur (masuk) ke dalam air yang tenang, dan larangan mengambil air bekas dikencingi untuk mandi.
    • Riwayat Bukhori: larangan dari kencing kemudian mandi sekaligus (di dalam air yang diam tersebut).
    • Riwayat Abu Dawud: larangan dari masing-masing (kencing saja atau mandi saja).

    Dari seluruh riwayat tersebut disimpulkan bahwa seluruhnya terlarang, hal ini karena kencing atau mandi di dalam air yang tenang menyebabkan air kotor dan menjijikkan bagi orang lain meskipun air tidak sampai najis.

  12. Keharaman ini juga berlaku untuk buang air besar dan istinja’ (mencebok) di dalam air yang tenang yang tidak mengalir.
  13. Haram merugikan orang lain dan memberikan mudhorot kepada mereka dengan amalan apapun yang tidak diridhoi, yang lebih besar mudhorotnya daripada manfaatnnya.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Para ulama berbeda pendapat apakah larangan ini berkonsekuensi haram atau makruh.

  • Madzhab Malikiyah berpendapat makruh, karena air tetap dalam keadaan suci.
  • Madzhab Hanabilah dan Zhohiriyyah berpendapat haram.
  • Sebagian ulama berpendapat haram pada air yang sedikit, dan makruh pada air yang banyak.
  • Secara zhohir, larangan tersebut hukumnya haram baik pada air yang sedikit maupun banyak, meskipun air tidak ternajisi, ‘illah (sebab) nya adalah karena kotornya air dan menjijikkan bagi orang lain.

Peringatan: dikecualikan air yang sangat banyak (seperti air laut dan danau) berdasarkan kesepakatan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Diterjemahkan dari kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Marom karya Syaikh Abdullah Al Bassam hafizhohullah
, oleh Yoad Nazriga S

Pertanyaan :

  1. Apa hukumnya kencing di dalam kolam? (jelaskan dengan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini)
  2. Bolehkah mandi janabah di dalam kolam? Bagaimana jika mandi janabahnya di sungai yang mengalir atau di danau yang tenang?
  3. Apakah yang dilarang hanya kencing saja (di dalam air yang tenang)? atau mandi janabah juga? atau kedua-duanya sekaligus? atau semuanya itu terlarang? Apa pendapat Imam As Shon’ani dan Ibnu Daqiqil ‘Ied dalam masalah ini?
  4. Apa hikmah dari larangan kencing atau mandi di dalam air yang tenang?

Dapat juga dilihat di : Kajian Bulughul Marom l Facebook





Bab Air (Hadits 4) : Hadits Dua Kullah

30 10 2009

Hadits 4 Bulughul Marom:

وعَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عمرَ – رضي الله عنهما – قاَل قَال رَسُولُ الله –صلى الله عليه و سلم – :
((إذاَ كَانَ المـاَءُ قُـلَّـتَـيْـنِ لَـمْ يـَحْمِل الخَـبَـثَ))
وفي لفظٍ:
((لَـمْ يـَـنْجُسْ))
أخرجه الأربعة, و صححه ابن خزيمة و الحاكم و ابن حبان.

Dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma dia berkata (bahwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “jika air mencapai dua kullah, maka (air tersebut) tidak mengandung kotoran [najis]”. Dalam lafadz lain: “(air tersebut) tidak ternajisi.

Dikeluarkan oleh imam yang empat, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, dan Ibnu Hibban.

Derajat hadits:

Hadits ini shahih, dinamakan juga dengan hadits qullatain (dua kullah).

Para ulama berbeda pendapat mengenai keshahihan hadits ini, sebagian ulama menghukumi hadits ini dengan syadz (nyeleneh) pada sanad dan matannya.
Syadz pada matannya dari segi bahwa hadist ini tidak ,i>masyhur padahal kandungan hadits ini sangat dibutuhkan, seharusnya dinukil secara masyhur, namun hal ini tidak. Dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Ibnu Umar saja.
Adapun segi idhtirob (simpang siur) pada matan, yaitu adanya sebagian riwayat “jika air mencapai dua kullah”, ada juga “jika air mencapai tiga kullah”, ada juga “jika air mencapai empat puluh kullah”. Ukuran kullahpun tidak diketahui, dan mengandung pengertian yang berbeda-beda.
Adapun ulama yang membela hadits ini dan mengamalkannya seperti Imam Asy Syaukani, beliau berkata, “telah dijawab tuduhan idhtirob (simpang siur) dari segi sanad bahwa selagi terjaga di seluruh jalur periwayatannya, maka tidak bisa dianggap idhtirob (simpang siur), karena hadits tersebut dinukil oleh yang terpercaya kepada yang terpercaya. Al Hafidz berkata, “Hadits ini memiliki jalur periwayatan dari Al Hakim dan sanadnya dikatakan baik oleh Ibnu Ma’in.” Adapun tuduhan idhtirob dari segi matan, maka sesungguhnya riwayat “tiga” itu syadz, riwayat “empat puluh kullah” itu mudhtorib, bahkan dikatakan bahwa kedua riwayat tersebut maudhu’, dan riwayat “empat puluh” di-dho’ifkan oleh Ad Daruqtni.
Syaikh Al Albani berkata, “hadits ini shahih”, diriwayatkan oleh lima imam bersama Ad Darimi, At Thohawi, Ad Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi, Ath Thoyalisi dengan sanad yang shahih.
Ath Thohawi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Adz Dzahabi, An Nawawi, Al Asqolaani menshahihkan hadits ini, dan sikap sebagian ulama yang mencacati hadits ini dengan idhtirob (simpang siur) tidaklah dapat diterima.
Ibnu Taimiyah berkata, “kebanyakan ulama menghasankan hadits ini dan menjadikannya sebagai hujjah (dalil), mereka telah membantah perkataan yang mencela hadits ini”
Diantara ulama yang menshahihkan hadits ini adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Mandzah, At Thohawi, An Nawawi, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, Asy Suyuthi, Ahmad Syakir, dll.

Kosa kata:

  • Kata قلتين (qullataini) = dua kullah. Dua kullah sama dengan 500 ritl irak, dan 1 ritl irak sama dengan 90 misqol. Dengan takaran kilo, dua kullah sama dengan 200 kg.
  • Kata لم يحمل الخبث (lam yahmil khobats), yaitu tidak dicemari oleh kotoran (najis), maknanya adalah air tidak ternajisi dengan masuknya najis ke dalamnya, jika air tersebut mencapai dua kullah. Dikatakan juga bahwa maksudnya adalah air tersebut dapat melarutkan (menghilangkan) najis yang masuk ke dalamnya, sehingga air tersebut tidak ternajisi.
  • Kata الخبث (khobats) adalah najis.

Faedah hadits:

  1. Jika air mencapai dua kullah, maka air tersebut dapat menghilangkan najis (dengan sendirinya) sehingga najis tidak memberi pengaruh, dan inilah makna tersurat dari hadits tersebut.
  2. Dipahami dari hadits tersebut bahwa air yang kurang dari dua qullah, terkadang terkontaminasi oleh najis dengan masuknya najis sehingga air tersebut menjadi ternajisi, tetapi terkadang tidak menjadi ternajisi dengannya.
  3. Ternajisi atau tidaknya air bergantung pada ada atau tidaknya zat najis di dalamnya, jika najis tersebut telah hancur dan larut, maka air tersebut tetap pada kesuciannya.

Perbedaan pendapat ulama:

  • Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan Ahmad, serta pengikut madzhab mereka, berpendapat bahwa air yang sedikit menjadi ternajisi dengan masuknya najis, walaupun najisnya tidak mengubah sifat air.

    Sedikitnya air menurut Abu Hanifah adalah air yang jika digerakkan di satu ujung wadahnya, maka ujung lainnya juga ikut bergerak.
    Adapun sedikitnya air menurut madzhab Syafi’i dan Ahmad (Hanabilah) adalah air yang kurang dua kullah.

  • Imam Malik, Az Zhohiriyyah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama-ulama salafiyah di Nejd, dan para muhaqqiqin berpendapat bahwa air tidak menjadi ternajisi dengan masuknya najis selama salah satu dari tiga sifat air (rasa, warna, dan bau) tidak berubah.

Para ulama yang mengatakan bahwa air dapat ternajisi dengan sekedar masuknya najis berdalil dengan pemahaman hadits Ibnu Umar ini. Pemahamannya menurut mereka bahwa air yang kurang dari dua kullah akan mengandung kotoran [najis]. Di dalam satu riwayat, “jika (air) mencapai dua kullah, maka tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya”. Maka pemahamannya bahwa air yang kurang dari dua kullah menjadi ternajisi dengan sekedar masuknya najis, sebagaimana mereka berdalil dengan hadits tentang perintah menumpahkan air pada wadah yang dijilati oleh anjing tanpa memperdulikan tentang perubahan sifat air nya.
Hadits qullatain (dua kullah) tidak bertentangan dengan pendapat Abu Hanifah, sebab air seukuran dua kulah jika diisi dalam suatu wadah, maka air di salah satu ujung wadah tidak bergerak dengan bergeraknya ujung lainnya.

Adapun dalil- dalil para ulama yang tidak memandang sebagai air yang ternajisi kecuali dengan perubahan sifat, diantaranya hadits qullataini ini, sesungguhnya makna hadits tersebut adalah air yang mencapai dua kullah tidak ternajisi dengan sekedar masuknya najis, karena air yang mencapai dua kullah tersebut tidak mengandung kotorang [najis] dan dapat menghilangkan najis-najis di dalamnya.
Adapun pemahaman hadits tersebut, tidak lazim demikian, sebab terkadang air menjadi ternajisi jika najis mengubah salah satu sifat air, dan terkadang air tidak ternajisi. Sebagaimana mereka juga berdalil dengan hadits tentang menuangkan seember air pada air kencing Arab Badui dan dalil lainnya.
Ibnul Qoyyim berkata, “yang dituntut oleh prinsip dasar syariat adalah : jika air tidak berubah sifatnya oleh najis maka air tersebut tidak menjadi ternajisi, hal itu karena air tetap dalam sifat alaminya, dan air yang seperti ini termasuk yang thoyyib (baik) dalam firman Allah, ((dan dihalalkan bagi mereka yang baik-baik)). Ini dapat diqiyaskan terhadap seluruh benda cair, jika terkena najis dan tidak mengubah warna, rasa, dan bau.

Sumber: Taudhihul Ahkam min Bulughul Marom karya Syaikh Abdullah Al Bassam
Diterjemahkan oleh Yoad Nazriga S

Pertanyaan:

  1. Berapa ukuran dua kullah air?
  2. Jika air mencapai dua kullah, lalu terkena najis, dan najis itu merubah salah satu dari tiga sifat air (bau, warna, dan rasa), apakah air tersebut menjadi ternajisi?
  3. Jika air mencapai dua kullah, lalu terkena najis, tetapi najis tersebut tidak merubah sifat air, apakah air tersebut menjadi ternajisi?
  4. Jika air kurang dari dua kullah, lalu terkena najis, tetapi najis tersebut tidak merubah sifat air, apakah air tersebut menjadi ternajisi? Jelaskan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini menurut Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan Malik!

Dapat juga dilihat di Kajian Bulughul Marom l Facebook





Bab Air (Hadits 2 dan 3) : Secara Asal, Air itu suci dan mensucikan

30 10 2009

Hadits 2:

عَنْ أبي سَعيدٍ الخُدْرِيِّ – رضي الله عنه- قالَ : قالَ رَسُولُ الله – صلي الله عليه و سلم- : ((إِنَّ المَاءَ طَهُوْرٌ لا يُنَجِّسُهُ شَيءٌ))
أخرجه الثلاثة, صححه أحمد.

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya air itu thohur (suci dan mensucikan), tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya“. Dikeluarkan oleh Imam yang tiga, dan Imam Ahmad menshahihkannya.

Derajat hadits:

Hadits ini shahih

.

  • Hadits ini juga dinamakan “hadits bi’ru bidho’ah“. Imam Ahmad berkata, “hadits bi’ru bidho’ah ini shahih”.
  • Imam At Tirmidzi berkata “hasan”.
  • Abu Usamah menganggap hadits ini baik. Hadits ini telah diriwayatkan dari Abu Sa’id dan selainnya dengan jalur lain.
  • Disebutkan di dalam “at Talkhish” bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ahmad, Yahya bin Mu’in, dan Ibnu Hazm.
  • Al-Albani berkata, “periwayat pada sanadnya adalah periwayat Bukhori dan Muslim kecuali Abdullah bin Rofi’. Al Bukhori berkata, “keadaannya majhul”, akan tetapi hadits ini telah dishahihkan oleh imam-imam sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
  • Hadits ini adalah hadits yang masyhur (dikenal) dan diterima oleh para imam.
  • Syaikh Shodiq Hasan di kitab Ar-Raudah, “Telah tegak hujjah dengan pen-shahih-an oleh sebagian imam . Telah dishahihkan juga (selain yang telah disebutkan di atas) oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah, dll. Walaupun Ibnul Qothon mencacati hadits ini dengan majhulnya riwayat dari Abu Sa’id, akan tetapi pencacatan oleh satu orang Ibnul Qothon tidak dapat melawan penshahihan oleh imam-imam besar (yang telah disebutkan di atas).

Kosa Kata:

  • Kata طهور (Thohur), artinya suci substansinya dan dapat mensucikan selainnya.
  • Kata لا ينجسه شيء (Laa yunajjisuhu syai-un) = tidak ada yang sesuatupun yang dapat menajiskannya. Perkataan ini dimuqoyyad-kan (diikat) dengan syarat yaitu sesuatu (najis) tersebut tidak mengubah salah satu dari tiga sifat air, yaitu bau, rasa, dan warna.

Hadits 3:

و عَنْ أبي أمَامََةَ الباهِِلي – – رضي الله عنه- قالَ : قالَ رَسُولُ الله – صلي الله عليه و سلم-
: ((إِنَّ المَاءَ لا يُنَجِّسُهُ شَيءٌ, إلاَّ ما غَلَبَ عَلىَ رِيحهِ و طَعّمِهِ و لَوْنِهِ ))

أخرجَهُ ابنُ مَاجح, و ضعَّفَهُ أبُو حاتِم. و للبيهاقي :
((المَاءُ طَاهِرٌ إلاَّ إنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ أَوْ طَعمُهُ أو لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ))

Dari Abu Umamah Al Baahiliy radiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya air tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya, kecuali yang mendominasi (mencemari) bau, rasa, dan warnanya”. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, didhoifkan oleh Abu Hatim. Dalam riwayat Al Baihaqi, “Air itu thohur (suci dan mensucikan) kecuali jika air tersebut berubah bau, rasa, atau warna oleh najis yang terkena padanya.”

Derajat Hadits:

  • Bagian pertama hadits adalah shahih, sedangkan bagian akhirnya adalah dho’if. Ungkapan “Sesungguhnya air tidak ada sesuatupun yang menajiskannya” telah ada dasarnya di hadits bi’ru bidho’ah (hadits 2).
  • Adapun lafadz tambahan “kecuali yang mendominasi (mencemari) bau, rasa, dan warnanya”, Imam an Nawawi berkata, “para ahli hadits bersepakat atas ke-dho’if-an lafadz ini, karena di dalam isnadnya ada Risydain bin Sa’ad yang disepakati ke-dho’if-an-nya. Akan tetapi, Ibnu Hibban di dalam shahihnya menukil adanya ijma’ ulama untuk mengamalkan maknanya.
    Shodiq berkata di kitab Ar-Raudhoh, “Para ulama bersepakat terhadap dho’ifnya tambahan ini, akan tetapi ijma’ ulama mengakui kandungan maknanya”.

Faedah Hadits (2 dan 3):

  1. Kedua hadits ini menunjukkan bahwa, secara asal, air adalah suci dan mensucikan, tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya.
  2. Kemutlakan ini dimuqoyyadkan (diikat) dengan syarat yaitu sesuatu (najis) tersebut tidak mengubah bau, rasa, atau warna air, jika berubah maka air tersebut ternajisi (menjadi najis), baik air tersebut sedikit ataupun banyak.
  3. Yang meng-muqoyyad-kan kemutlakan ini adalah ijma’ umat islam bahwa air yang berubah oleh najis, maka air tersebut ternajisi (menjadi najis), baik air tersebut sedikit ataupun banyak.
    Adapun lafadz tambahan yang datang pada hadits Abu Umamah maka itu dho’if, tidak tegak hujjah dengannya, akan tetapi:

    • Imam An-Nawawi berkata, “para ulama telah ijma’ terhadap hukum dari lafadz tambahan ini”.
    • Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama ijma’ bahwa air yang sedikit ataupun banyak jika terkena najis dan mengubah rasa, warna, atau bau air tersebut, maka air tersebut ternajisi (menjadi najis).
    • Ibnul Mulaqqin berkata, “terlepas dari kedhoifan tambahan (yang mengecualikan) tersebut, ijma’ dapat dijadikan hujjah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As Syafi’i dan Al Baihaqi, dan selain keduanya.
      Syaikhul Islam berkata, “Apa yang telah menjadi ijma’ oleh kaum muslimin maka itu berdasarkan nash, kami tidak mengetahui satu masalahpun yang telah menjadi ijma’ kaum muslimin tetapi tidak berdasarkan nash.

Sumber : kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Marom karya Syaikh Abdullah Al Bassam
Diterjemahkan oleh Yoad Nazriga S

Pertanyaan :

  1. Jika ada suatu najis yang masuk ke dalam air, tetapi najis tersebut tidak mengubah salah satu dari tiga sifat air, baik baunya, warnanya, atau rasanya. Apakah air tersebut menjadi najis (ternajisi)?
  2. Jika air kolam terkena suatu najis dan mengubah warna air kolam, apakah air kolam tersebut menjadi najis (ternajisi)? mengingat air kolam sangat banyak.
  3. Apakah ungkapan bahwa air “tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya” berlaku secara mutlak? Kalau iya, jelaskan. Kalau tidak, apa yang membuat ungkapan itu tidak berlaku?

Dapat juga dilihat di: Kajian Bulughul Marom l Facebook