Situs Baru yang mengkaji Islam

21 03 2011

kunjungi http://kajian-islam.com





Dua Penyakit Berbahaya: Sombong dan Hasad

3 04 2010

قال شيخ الإسلام : والكبر والحسد هما داءان أهلكا الأولين والآخرين وهما أعظم الذنوب التي بها عصى الله أولا فإن إبليس استكبر وحسد آدم وكذلك ابن آدم الذي قتل أخاه حسد أخاه ولهذا كان الكبر ينافي الإسلام كما أن الشرك نافي الإسلام فإن الإسلام هو الإستسلام وحده فمن استسلم له ولغيره فهو مشرك به ومن لم يستسلم فهو مستكبر كحال فرعون وملإه ومن أسلم وجهه لله حنيفا فهو المسلم الذي على ملة إبراهيم الذي إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين

Syaikhul Islam mengatakan, “Sombong dan hasad adalah dua penyakit yang mencelakakan umat awal dan akhir zaman, keduanya adalah dosa terbesar pertama yang dilakukan dalam maksiat kepada Allah. Sesungguhnya Iblis sombong dan hasad kepada Adam. Demikian juga anak Adam yang membunuh saudaranya karena hasad kepadanya. Oleh karena itu sombong bertentangan dengan Islam, sebagaimana syirik juga bertentangan dengan Islam. Sesungguhnya Islam maknanya tunduk kepada Allah saja, barangsiapa yang tunduk kepada-Nya juga kepada selainnya maka dia berbuat kemusyrikan kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak tunduk kepada-Nya maka ia sombong, seperti keadaan Fir’aun dan bala tentaranya. Barangsiapa yang tunduk kepada Allah saja secara hanif maka dialah muslim yang berada di atas agama Ibrahim, “Ketika Rabb-Nya berkata kepadanya, Islamlah! Ia (Ibrahim) berkata, Saya islam (tunduk) kepada Rabb semesta alam (QS Al Baqoroh)”

Sumber: Kitab Mawaa’iz Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, karya Sholeh Ahmad Asy Syaamii.





Anjuran Shaum Asyuro

22 12 2009

Oleh : Syaikh Ibnu Baaz -rahimahullah-

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam kepada Rasulullah, keluarga dan sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengambil penjuk beliau.

Amma ba’du:

Sungguh telah sah hadits dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau shaum pada hari Asyuro, serta memotivasi manusia untuk shaum pada hari tersebut, karena hari itu adalah hari disaat Allah memenangkan Nabi Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Maka disunnahkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk shaum pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah, hari itu adalah hari ke-sepuluh dari bulan Muharrom.

Disunnahkan pula shaum sehari sebelum atau sesudahnya (hari ke-9 dan 11), dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi. Jika dia shaum di ketiga hari itu, yaitu hari ke-9, 10, dan 11, maka tidak mengapa, karena telah diriwayatkan dari Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda :

Selisihilah orang-orang Yahudi, shaumlah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya“.

Di dalam riwayat lain,

Shaumlah sehari sebelum atau sehari sesudah“.

Dan telah shahih dari beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau ditanya tentang shaum ‘Arofah, maka beliau menjawab,

Dengannya Allah menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya“.

Hadits-hadits tentang shaum ‘Asyuro dan anjuran untuk melakukannya sangat banyak.

Saya memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin terhadap perkara-perkara yang Dia ridhoi, dan menjadikan kita semua diantara orang-orang yang bersegera melakukan setiap kebaikan. Sesungguhnya dia Jawwaadun Kariim. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa Aalihi wa shohbihi.

Sumber: http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=836

-Yoad Nazriga S-





Kisah tentang Syaikh Al Albani -rahimahullah- (oleh Syaikh Ali Hasan -hafizhohullah-)

19 12 2009

Siapa diantara penuntut ilmu (syar’i) yang tak kenal dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah-? Karya tulisan beliau yang sangat banyak dan ilmiah sungguh mengagumkan. Dari meja beliau (di perpustakaan) lah lahir tulisan-tulisan itu.
Ada kisah yang diceritakan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsari (murid Syaikh Al Albani) tentang bagaimana syaikh Albani -rahimahullah- memanfaatkan waktunya.
Kisah ini saya dengar dari ceramahnya (rekaman) syaikh Ali Hasan dalam majelis ilmu yang bertema “Himmah Tholibil Ilmi”, bisa didownload di sini.

Syaikh Ali Hasan -hafizhohullah- berkata (di menit 00:58:46 – 01:00:00):

Saya ingat saat beliau (syaikh Al Albani -rahimahullah) memanggil seorang tukang kayu, beliau berkata kepada tukang kayu itu, “Saya ingin engkau mengubah arah perputaran pintu perpustakaan ini, yang sekarang pintu itu membuka ke arah kanan, nanti engkau ganti menjadi membuka ke arah kiri.”
Tukang kayu tadi melihat pintu (sambil keheranan), dan bertanya, “ya Syaikh” mengubah dari kanan ke kiri, emangnya kenapa??”
Syaikh Albani berkata, “kamu mampu atau tidak?” Tukang kayu berkata, “Tentu saya mampu, akan tetapi katakan kepadaku apa alasannya?”
Syaikh Albani menjawab, “saya (hanya bisa) menaruh meja saya di sini (di sebelah kanan dalam perpustakaan), maka jika pintu itu membuka ke arah ini (kanan), saya terpaksa menambah lima langkah untuk mencapai meja ini. Sementara saya beranjak dari meja ini untuk shalat lima waktu sehari semalam, dan saya pun biasa keluar untuk keperluan di rumah atau untuk mengisi kajian, sehingga jumlah keluar masuk ada sekitar tujuh kali. Setiap kali keluar masuk (dalam sehari semalam) bisa hilang waktuku sebanyak seperempat atau setengah jam. Dalam seminggu, berapa waktuku yang hilang? Dan berapa pula waktuku yang hilang dalam sebulan? Akan tetapi jika pintu ini memutar seperti ini (ke kiri), maka hanya perlu satu langkah di pintu dan satu langkah menuju meja, sehingga waktuku tidak (banyak) hilang. Semoga Allah merahmati beliau.”
(selesai)
Semoga ada manfaatnya, terutama bagi diri saya. Amin..

-Yoad Nazriga S-





Pengantar Ushul Tafsir

18 12 2009

Ushul tafsir merupakan salah satu cabang ilmu yang paling penting dan paling agung. Dengannya kita dapat memahami Kalamullah (Al Qur’an). Para ulama telah menjelaskan ushul (landasan-landasan) tafsir sebagaimana mereka juga telah menjelaskan ushul fiqh dan ushul hadits. Diantara kitab yang ringkas mengenai ushul tafsir adalah “Muqoddimah Tafsir” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.(1)

Tidak diragukan lagi bahwa Al Qur’an adalah kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan kepada rasul-Nya, sekaligus penutup para nabi, (yaitu) Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka sudah semestinya Al Qur’an mendapat perhatian mendalam dari kaum muslimin, karena Al Qur’an merupakan perkataan dari Rabb yang menciptakan mereka.

Bukankah kita yang ahli di bidang kedokteran atau sains atau teknologi, membutuhkan penjelasan dari buku yang kita baca dan kita butuh pemahaman terhadapnya, lantas bagaimana dengan kitabullah yang sering kita baca? Bukankah di dalam sholat kita selalu membaca surat Al Fatihah dan mengulang-ulangnya di setiap raka’at? Atau mendengarkannya dari bacaan imam. Lantas apakah kita memahaminya atau setidaknya pernah membaca tafsirnya?(2)

Membaca Al Qur’an saja memang berpahala, namun perlu juga kita memperhatikan tujuan dari diturunkannnya Al Qur’an tersebut,

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin menyebutkan, “Al Qur’anul Karim diturunkan untuk tiga perkara, beribadah dengan membacanya, memahami makna-maknanya, dan mengamalkannya” (3)

Makanya para sahabat sangat perhatian dalam memahami Al Qur’an, bahkan mereka tidak melewatkan sepuluh ayat sampai mereka mempelajari kandungan di dalamnya berupa ilmu dan amal.(4)

Oleh karenanya Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhu- menghafal surat Al Baqoroh selama bertahun-tahun, dikatakan Imam Malik yaitu delapan tahun. (5)

Demikianlah Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS Shood : 29), dan Dia juga berfirman, “Apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an?” (QS Muhammad : 24)

Ilmu ushul tafsir sangat penting sebagai permulaan seseorang dalam memahami kitabullah, karena kitab tafsir itu sangat banyak, maka butuh penjelasan pokok-pokok dan landasannya agar mudah untuk memahaminya. Selain itu kita juga perlu mengetahui landasan-landasan yang benar dalam mempelajari tafsir, karena tidak semua kitab tafsir yang selamat dari penyimpangan.

Di antara kitab tafsir ada yang mengandung hadits-hadits dho’if dan maudhu’, ada juga yang menafsirkan dengan sandaran akal semata, dan ada juga yang dimasuki oleh pemikiran-pemikiran firqoh-firqoh menyimpang.

Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah- merekomendasikan bagi para pemula empat kitab tafsir yang bagus untuk dibaca, yaitu Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Baghowi, Tafsir Ath Thobary, dan Tafsir As Sa’di. Beliau lalu mengatakan, “Adapun tafsir lainnya, sebagian sisinya baik akan tetapi terdapat kesalahan-kesalahan terutama mengenai Aqidah. Tidak baik dibaca kecuali oleh orang-orang yang sudah mapan (ilmunya) dimana dia bisa mengambil kebaikan darinya dan menjauhi kesalahan-kesalahan yang terkandung di dalamnya“(6)

Alhamdulillah, sekarang tafsir Ibnu Katsir telah diterjemahkan seluruhnya (ke dalam bahasa Indonesia) dan telah diterbitkan (7). Adapun tafsir As Sa’di, setahu kami terjemahan Juz Amma dan Surat Al Fatihah saja yang baru diterbitkan.

Di zaman sekarang ini, mendapatkan ilmu sangatlah mudah, berbeda dengan orang-orang terdahulu, mesti menyalin kitab dengan tangannya sendiri dan mesti berjalan merantau demi mendapat satu dua hadits. Sekarang wasilah tuk mendapat ilmu sangatlah banyak, tinggal keinginan dan tekad dari kita semua untuk mau belajar. Terutama bagi para pemuda yang masih kuat daya paham dan hafalannya. Mari kita manfaatkan waktu tuk belajar agama ini, terutama belajar tafsir dan ushulnya. Jangan sampai waktu kita hilang dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

Selesai

Ditulis saat menjelang Magrib – Isya, tanggal 1 Muharram 1431 H bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009

Al Faqiir Ilalallah
-Yoad Nazriga S-

Keterangan:

(1) Kitab ini beliau tulis atas permintaan beberapa orang di zamannya, sebagaimana beliau menyebutkan “Sebagian ikhwan telah meminta kepadaku agar aku menuliskan muqoddimah (pendahuluan), yang mencakup kaidah-kaidah yang menyeluruh, yang membantu untuk memahami Al Qur’an dan mengenal tafsirnya serta makna-maknanya, …”. Demikianlah para ulama ketika menulis terkadang atas permintaan dan terkadang atas inisiatif sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia di zaman mereka.

(2)Syaikh Sholeh Alu Syaikh –hafizhohullah- berkata di dalam ceramahnya Syarh Tsalatsatul Ushul, beliau menyampaikan nasehat di awal muqoddimahnya “Berapa banyak orang yang tercela, mereka mendengar ucapan yang berulang-ulang akan tetapi mereka tidak mengetahui maknanya”. Kemudia beliau melanjutkan, “ketidaktahuan itu bukanlah tercela, akan tetapi yang tercela itu adalah terus-menerus dalam ketidaktahuan

(3) Syarh Muqoddimah Tafsir, hal. 7, cet.Darul Wathan

(4) Telah berkata Abu Abdirrohman AsSulamy, telah menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan Al Qur’an kepada kami, seperti ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Abdullah bin Mas’ud, serta selain mereka berdua, mereka jika belajar sepuluh ayat dari nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tidaklah mereka melewatkannya sampai mereka mempelajari apa-apa yang terkandung di dalamnya berupa ilmu dan amal, mereka mengatakan, “kami mempelajari Al Qur’an, ilmu, serta amal sekaligus“. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no.29929) dan Ibnu Sa’ad di dalam AtThobaqoot (172/6)). Bisa dlihat juga di kitab Muqoddimah Tafsir.

(5) Muqoddimah Tafsir

(6) http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=709

(7) Dengan Penerbit Pustaka Imam Asy Syafi’i





Memanfaatkan masa muda

9 11 2009

Berikut adalah nasehat dari seorang ulama robbani kepada para pemuda, nasehat dari seorang yang sudah pernah mengalami masa muda, yang menasehati kita dengan ilmunya yang dalam dan dengan pertimbangan kemaslahatan akhirat dan dunia. Berdasarkan dalil-dalil dari pencipta kita dan dari rasul-Nya yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Inilah nasehat dari Syaikh Bin Baaz –rahimahullah- agar para pemuda memanfaatkan masa mudanya sebelum datang masa tuanya. Semoga kita dapat mengamalkannya.

Oleh
Samahatul Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz -rahimahullah-

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, balasan kebaikan hanya bagi orang-orang yang bertakwa, shalawat serta salam kepada hamba dan rasul-Nya, sebaik-baik makhluk-Nya, yang amanah terhadap wahyu-Nya, nabi kita, imam kita, pemimpin kita Muhammad bin Abdillah, juga kepada keluarga dan sahabat beliau serta orang-orang yang menempuh jalan beliau dan mengambil petunjuk dengan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.
Amma ba’du.

Sesungguhnya masa muda merupakan nikmat Allah yang istimewa, para pemuda dianugerahi kekuatan untuk menggapai cita-citanya dengan pertolongan Allah -azza wa jalla-, masa ini adalah masa agung yang semestinya terbentengi dari akhlak dan perbuatan yang tercela, dan semestinya para pemuda bersungguh-sungguh terhadap perkara-perkara yang menyampaikannya kepada (jalan) Allah -azza wa jalla- dan kepada perkara yang bermanfaat bagi para hamba-Nya. Masa muda merupakan masa yang istimewa, masa yang paling berharga.

Di antara sunnatullah adalah setiap hamba jika dia istiqomah dan terus menerus dalam keistiqomahannya maka Allah akan menolongnya untuk menyempurnakan keistiqomahan tersebut, seta Dia akan mewafatkan hamba tersebut sesuai dengan kebiasaannya dan usahanya di dalam kebaikan.
Sungguh Islam telah memberi petunjuk kepada para pemuda dan menganjurkan mereka untuk istiqomah, serta memotivasi mereka dengan sebab-sebab keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu terdapat hadits di dalam Shahihain dari nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda,

سبعةٌ يظلهم الله في ظله ، يوم لا ظل إلا ظله : إمام عادل ، وشاب نشأ في عبادة الله ، ورجل قلبه معلق بالمساجد ، ورجلان تحابا في الله اجتمعا على ذلك وتفرقا عليه ، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال ؛ فقال : إني أخاف الله ، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خاليًا ففاضت عيناه

Tujuh golongan yang Allah naungi dengan naungannya di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya, (yaitu)

  1. imam yang adil,
  2. pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,
  3. seseorang yang hatinya terkait dengan masjid,
  4. dua orang yang saling mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah,
  5. laki-laki yang diajak oleh wanita yang baik keturunannya lagi cantik kemudian laki-laki itu berkata sesungguhnya saya takut Allah,
  6. laki-laki yang bersedekah, dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,
  7. dan laki-laki yang berdzikir kepada Allah di saat sendiri lalu meneteskan air mata.”

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya perkara pemuda, yang semestinya bagi para pemuda untuk memperhatikan masa ini, serta dia beristiqomah di masa itu dalam melaksanakan perintah Allah, introspeksi diri, sehingga dia tidak menjadi sebab sesatnya orang lain.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan tujuh golongan tersebut, beliau memulainya dengan imam yang adil, karena imam yang adil merupakan kemaslahatan yang bersifat umum dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Pemimpin yang adil dapat menegakkan syariat Allah di tengah-tengah mereka, menghukumi mereka dengan adil, memberantas kezholiman dari orang-orang yang berbuat zholim di antara mereka, dan menolong mereka dalam ketaatan kepada Allah -azza wa jalla-. Oleh karenanya pemimpin yang adil menjadi yang pertama dari tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah dengan naungan-Nya di hari tidak ada naungan melainkan naungan-Nya.

Kemudian beliau menyebutkan setelah itu pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, ini yang kedua, sebab pemuda jika tumbuh di dalam ibadah kepada Allah maka Allah akan membuatnya bermanfaat bagi ummat, dia akan mengajari umat, mendakwahi ke jalan Allah dalam masa mudanya, masa dewasa serta masa tuanya nanti. Maka jadilah manfaat yang besar dan faedah yang banyak, sebab dia tumbuh di dalam ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, dan sebab dia belajar dalam keadaan yang kuat dan rajin, maka bertambahlah ilmu, pentunjuk, dan taufik seiring dengan bertambahnya usianya. Dengan demikian manfaat dan pengaruhnya lebih besar bagi umat.

Demikian juga diantara para pemuda bisa menjadi teladan, para pemuda dapat saling memberi pengaruh, sebagian mereka mengikuti sebagian yang lain, maka jika ada pemuda yang sangat rajin di dalam ketaatan kepada Allah maka akan berpengaruh kepada lainnya, dan semakin banyaklah hamba-hamba Allah yang istiqomah, tersebarlah ilmu diantara mereka, dan berpengaruh kepada selain mereka, semakin bertambah banyak lah kebaikan dan berkuranglah kejahatan, tegaklah perintah Allah, hilanglah kebatilan, lahirlah keutamaan-keutamaaan, dan hilanglah keburukan.

Diantara sabda nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

يا معشر الشباب ! من استطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم ، فإنه له وجاء ) . فأمر الشباب بالزواج ، حتى يحصنوا فروجهم ويغضوا أبصارهم ، وحتى يكونوا قدوة لغيرهم في الخير ، ولهذا قال : ( فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج

“Wahai para pemuda, jika kalian telah memiliki kemampuan (ba-ah) maka menikahlah karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah ia shaum, karena itu sebagai perisai baginya.”

Beliau memerintahkan pemuda untuk menikah agar mereka menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang lain di dalam kebaikan. Oleh karenanya beliau bersabda, “karena (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan”.

Dimaklumi dari hadits ini bahwa para pemuda semestinya bersegera untuk melakukan perkara-perkara yang menolongnya untuk menta’ati Allah, agar orang lain dapat mengambil teladan darinya, dan agar dia dapat terus beramal di atas ketaatan kepada Allah.

Diantara yang dapat menolong para pemuda (dalam ketaatan) adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, memperhatikan Al Qur’anul Karim, agar pemuda tersebut mengenal hukum-hukum Allah, dan agar dia berjalan di atas bashiroh (ilmu) dari Allah dalam keadaan masa mudanya dan masa tuanya nanti. Berbeda dengan kondisinya di saat tua, kesibukan mulai banyak dan pemahaman melemah. Adapun di masa mudanya keadaannya lebih kuat untuk memahami nash, lebih mudah untuk menghafal, lebih condong dan lebih kuat untuk mengamalkannya. Oleh karena itu, sudah semestinya para pemuda menjaga waktu mereka dan membentengi masa muda mereka agar tidak terjerumus kepada perkara-perkara yang Allah haramkan, sampai tidak ada rasa malas dan lemah terhadap perkara-perkara yang diwajibkan oleh Allah.

Wahai para pemuda, saudara-saudaraku di jalan Allah, anak-anakku, sesungguhnya kewajiban itu perkara yang agung, maka kalian harus bersungguh-sungguh dalam menta’ati Allah, di dalam menuntut ilmu, dan memahami agama, serta menjaga waktu dari perkara-perkara yang tidak semestinya dilakukan. Waktu itu secara hakiki lebih berharga dibandingkan emas, maka hendaklah kalian membentengi diri dari perkara-perkara yang tidak semestinya, dari perkara-perkara yang diharamkan, dari perbuatan jelek, dari seluruh perkara yang merendahkan seorang mukmin. Semestinya mereka menjaga diri dalam ketaatan kepada Allah, dalam belajar dan memahami agama, serta belajar perkara lain yang bermanfaat bagi ummat yang dapat menolong kebutuhan orang lain. Umat islam butuh pemahaman agara, dan penjelasan tentang syariat Allah dan tentang perkara yang diwajibkan oleh Nya. Sebagaimana umat juga butuh kepada pemuda agar mereka mempelajari seluruh perkara yang dibutuhkan di dalam segala bidang seperti pertahanan, dan bidang-bidang yang dibutuhkan umat di dalam kehidupan. Maka sudah semestinya bagi pemuda untuk memperhatikan dan menjaga waktunya, serta menyibukkan diri terhadap perkara-perkara yang bermanfaat bagi ilmu syar’i dan amal yang shalih, serta ilmu dunia yang berguna untuk mempersiapkan diri dari musuh-musuh, menjaga negeri, menolong agama Allah, jihad di jalan-Nya, sehingga kita tidak membutuhkan pertolongan dari musuh-musuh Allah agar kita tidak bergantung kepada mereka.

Dimaklumi bahwa pemuda itu kuat dalam beramal, dan bersabar melakukannya, kuat juga dalam hafalan dan pemahaman melebihi jika usianya telah tua. Dimana di masa tuanya sudah muncul rasa lemah, kondisinya tidak sama dengan kondisi masa muda. Maka semestinya bagi para pemuda agar menjaga waktu dan kesempatan mereka yang istimewa ini, agar mereka tidak berpaling kecuali kepada perkara yang bermanfaat di dalam agama dan dunia, serta yang bermanfaat bagi dirinya dan umat islam, agar bermanfaat juga bagi agama dan dunia umat islam, dan agar membantu untuk membangun kegiatan umat islam yang bermanfaat, serta agar membantu juga membentengi umat dari makarnya musuh-musuh islam, mempersiapkan kekuatan berguna yang membantu umat dalam melawan musuh, melindungi negeri dan menjaganya dari tipu daya musuh-musuh islam.

Diterjemahkan dari: http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=677

-Yoad Nazriga S-





Hukum sholat di belakang ahli bid’ah, fasik, ahli maksiat (Fatwa Syaikh Bin Baaz)

7 11 2009

Pertanyaan:
Bolehkah sholat di belakang orang yang aqidahnya menyelisihi aqidah ahli sunnah wal jama’ah seperti Asy’ari misalnya?

Jawaban (oleh syaikh Bin Baaz -rahimahullah-):
Pendapat yang lebih mendekati kebenaran -wallahu a’lam- adalah setiap yang kita hukumi keislamannya maka sah sholat di belakangnya, dan yang tidak muslim maka tidak sah. Ini adalah pendapat sekelompok dari kalangan ahli ilmu dan inilah pendapat yang paling benar. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak sah sholat di belakang orang ahli maksiat maka pendapat tersebut lemah, dengan dalil bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membolehkan sholat di belakang para penguasa, sementara penguasa kebanyakan mereka berbuat zholim. Ibnu Umar, Anas, dan yang lain mereka sholat di belakang Al Hajjaj yang merupakan orang yang paling zholim. Jadi, sholat sah di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak mengeluarkannya dari keislamannya, atau di belakang orang yang fasik secara zhohir yang kefasikannya tersebut tidak mengeluarkannya dari keislaman. Akan tetapi semestinya dia berwala’ kepada ahli sunnah, Demikianlah jama’ah jika mereka berkumpul di suatu tempat maka semestinya mereka mendahulukan orang yang paling utama dari mereka (untuk menjadi imam).

Sumber: Fatawa Islamiyyah, Kitabul Aqidah, bab Imamatul Mukholif li Ahlis Sunnah








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.